Kamis, 19 Februari 2015

kata

Kau tahu?
Aku selalu ingin bersamamu..
Tapi kini,bayanganmu saja tak boleh berkawan denganku
mendobrak abstrak abstrak yang tumbuh dari ilusi
dan akhirnya kau tercampak di tikungan musim

sayang.. aku mengenangmu
tapi cinta mencegat kau
di dalam drama kolosalnya bermain dengan dahlia yang terlilit
bersandiwara dan berperan dalam tangis kita
tertawa dalam luka kita

sayang.. aku memilikimu
tapi sekat selalu ada
mengikatku dalam musim restu
membubuhkan paku, mendobrak vignet yang terlukis sempurna

sayang.. cinta itu milik kita
tapi mereka iri
mereka takut kebahagiaan itu hanya kita yang punya

sayang, aku tak pandai berkata
tak mampu berdamai dengan kata
tak mampu membaca kata-kata
dan kita benar-benar tak mampu berkata
ketika cinta menolak memberi restunya pada “kita”

sayang, biar nanti saja waktu yang berkata
jika hari ini kita tak dalam satu kata
suatu saat nanti doa yang terkata
akan membuat “kita” hidup lagi.


Senin, 16 Februari 2015

coretan

Apa yang mereka dapatkan
Apa yang kami terima
Apa yang harusnya tak ada
Itulah pertanyaan yang menggelitik di setiap langkah gontaiku di sini

Bagaimana mungkin aku terus berjalan
Tanpa tau arah
Tanpa tau batas
Tanpa ada yag menemani menggores tinta tinta
Menjadi pamong praja utuh hati dan jiwanya untuk bangsa

Angin abdi praja berhembus lirih di lagu lagu telingaku
Parade menggetarkan jiwaku yang sepertinya kalut
Aku takut ibu
Masih sangat takut untuk berdiri di ksatriaan ini
Bapak...
Taukah kau putrimu menangis membayangkan diri menjadi pemimpin nanti

Dalam gedung penuh sesak
Dalam lautan keringat
Kami disini berdiri berdiri jauh dari yang terkasih





Mace , pace, akang , teteh , kakak
Mereka lah yang kerap kali terdengar nyanyian nyanyiannya
bersiul setiap petak tak bernyawa

Kami memang terjamin
Kami memang nyaman
Tapi terkadang , ada nyanyian sumbang
Ada keluhan kecil yang merayap di dinding kebisuan dalam wisma

Dalam sucinya embun malam
Kami terjaga dengan tetap mengingat-Mu
Kami menangis merindu mengingat
Mereka yang jauh , mereka yang menunggu peluh kami

Ya Rabb
Kau yang maha tau apa yang kami rasa
Aku titipkan ibu dan bapak di rumah
Aku titipkan nyanyian kecilku di sana

Walaupun aku takut
Walaupun aku pernah terisak
Aku yakin Kau bersamaku
Aku yakin mereka selalu untukku

Disatu sisi  aku Tak pernah berniat berpuisi
Hanya gorean hati yang terkadang bergejolak ingin di tumpahkan

Kamis , 14 feb 13





Minggu, 15 Februari 2015

Profil Kabupaten Lombok Tengah

Profil
Nama Resmi
:
Kabupaten Lombok Tengah
Ibukota
:
Praya
Provinsi 
:
NUSA TENGGARA BARAT
Baras Wilayah
:
Utara: Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
Selatan: Samudera Hindia
Barat: Kabupaten Lombok Barat
Timur: Kabupaten Lombok Timur
Luas Wilayah
:
1.095,03 Km2
Jumlah Penduduk
:
972.965 Jiwa 
Wilayah Administrasi
:
Kecamatan: 12, Kelurahan : 12, Desa :112

(Permendagri No.66 Tahun 2011)


Sejarah
Merekonstruksi sejarah Kerajaan SELAPARANG Menjadi sebuah bangunan kesejarahan yang utuh dan menyeluruh agaknya memerlukan pengkajian yang mendalam. Permasalahan utamanya terletak pada ketersediaan sumber-sumber sejarah yang layak dan memadai. Sumber-sumber yang ada sekarang, seperti Babad dan lain-lain memerlukan pemilihan dan pemilahan dengan kriteria yang valid dan reliable. Apa yang tertuang dalam tulisan sederhana ini mungkin masih mengundang perdebatan. Karena itu sejauh terdapat perbedaan-perbedaan dalam pengungkapannya akan dlmuat sebagai gambaran yang masih harus ditelusurl sebagal bahan pengkajlan leblh ianjut.
Agak sulit membuat kompromi penafsiran untuk menemukan benang merah ketiga deskripsi di atas. Minimnya sumber-sumber sejarah menjadi alasan yang tak terelakkan.
Zaman Majapahit
Menurut Lalu Djelenga (2004), catatan sejarah kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit melalui ekspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343 sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.
Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok dalam perkembangannya meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di tengah dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, kuripan dan Kentawang. Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka setelah kerajaan Majapahit runtuh.
Di antara kerajaan dan desa itu yang paling terkemuka dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok. Disebutkan kota Lombok terletak di teluk Lombok yang sangat indah dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini menjadikannya banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Palembang, Banten, ,Gresik dan Sulawesi.
Masuknya Islam
Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri datang mengislamkan kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.
"Susuhnii Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama kali berlayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada faham pagan. Setelah kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi (tanpa hasil) dengan Dewa Agung Klungkung.
Proses pengislaman oleh Sunan Prapen menuai hasil yang menggembirkan, hingga beberapa tahun kemudia seluruh pulau Lombok memeluk agama Islam, kecuali beberapa tempat yang masih memepertahankan adat istiadat lama.
Sementara di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang atas usul Patih banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh dibandingkan posisi sebelumnya.
Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat sampai Hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.
Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari ini. ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara, Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam Lontar-lontar sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para Walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakatnya. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma dan Warsa.
·         Danta artinya gading gajah, apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi.
·         Danti artinya ludah, apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi.
·         Kusuma artinya kembang, tidak mungkin kembang itu mekar dua kali.
·         Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan.
Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur). Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil) atau genem (rajin).
Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan Gelgel di Bali merasa tidak senang. Gelgel yang merasa sebagai pewaris Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan tetapi menemui kegagalan.
Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada 1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru dengan mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa singkretisme Hindu-Islam. Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya telah dapat memengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan kelemahan di sana-sini.
Masuknya Kolonialisme
Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai.
Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel yang mulai bangkit tidak senang. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas Selaparang yang dianggap halaman belakang Gelgel.
Akan tetapi terjadi perubahan sikap sepeninggal Dalem Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom. Terjadi polarisasi yang semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel, sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648, salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian bara pulau Sumbawa.
Akhirnya perang antara Gowa dengan Belanda tidak terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus menerima perjanjian Bungaya pada tahun 1667. Bungaya adalah sebuah wilayah yang terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya hubungan Gelgel-Belanda. Konon Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun 1668-1669, tetapi ekspedisi tersebut gagal.
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangganya, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun 1622.
Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.
Di balik itu memang ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang dulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di Kecamatan Jonggat.
Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan menyerang Kerajaan Pejanggik.
Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.
Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.







Arti Logo
Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok
Lumbung, tempat penyimpanan padi ciri khas masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
Sabuk Anteng, semacam sabuk yang spesifik bagi kaum wanita yangcoraknya khas Lombok Tengah.
Kubah, perlambang ketaatan dan ketaqwaan masyarakat Lombok Tengahterhadap ajaran agama yang dianutnya.
Perisai Segi Lima, benteng pertahanan dalam mengawal serta menegakkan Pancasila.
Bintang Segi Lima, melambangkan Falsafah Negara Pancasila sebagaiPandangan dan Tuntunan Hidup.
Kapas Bermahkota Empat, dan berdasar Kelopak lima melukiskan landasan UUD 1945.
Laut Biru dengan Gelombang Putih, menggambarkan semangat perjuangan yang tidak kunjung padam sekaligus menampakkan keadaan alam Kabupaten Lombok Tengah.
Tulisan berbunyi LOMBOK TENGAH, merupakan nama daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.
TATAS TUHU TRASNA, merupakan Motto Daerah







Nilai Budaya
Songket Sukarara, Gerabah Penujak, Anyaman Beleka, Desa Tradisional Sade & Nde, Ritual Nede, Festival Bau Nyale, Peresean, Gendang Beleq, Jangger, Masjid Kuno Rembitan & Makam Wali Nyatoq, Makam Ketak, Situs Batu Rijang, Makam Seriwa
Songket Sukarara
Songket merupakan kain tenun tradisional sasak yang terkenal di Nusa TenggaraBarat bahkan sampai keluar daerah dan Mancanegara. Souvenir inibisa didapati di daerah objek wisata Lombok Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat yang merupakan desa tempat penenun membuat kain songket ini, berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung tertarikmenyaksikan cara pembuatan kain songket yang dibuat oleh wanitadengan berpakain tradisional khas sasak bias berkunjung menyaksikannya secara langsung ke Desa Sukarara.
Gerabah Penujak
Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan penduduk setempatmembentuk dan menghaluskan tanah liat menjadi bentuk yangmengagumkan yaitu gerabah. Keahlian ini diperoleh sejak dahulu ketika runtuhnya kerajaan hindu majapahit abad ke 16 dengan metode tradisional putar dan coiling. Gerabah Penujak merupakan komoditi ekspor. Peminatyang menginginkan gerabah bisa diperoleh di art shops atau langsung keDesa Penujak Kecamatan Praya Barat sekitar 7 Km selatan Kota Praya.Anyaman Beleka.
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksianyaman yang terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya KotaPraya, kecamatan Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduksetempat juga mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besimembuat keris. Pengunjung bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek wisata atau di Desa Beleke.


TUGAS PENGANTAR AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH

Pengertian Akuntansi Pemerintah
Berdasarkan pengertian pemerintah daerah, maka Akuntansi Pemerintah Daerah menurut Abdul Hafiz (2006:35) “Dapat di definisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk pelaporan hasil-hasilnya dalam penyelenggaraan urusan pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam system dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Menurut Abdul Halim (2008:35) memberikan definisi akuntansi pemerintah daerah yang disebutnya sebagai Akuntansi Keuangan Daerah, Akuntansi Keuangan Daerah adalah: “Proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah (kabupaten, kota atau provinsi) yang dijadikan informasi dalam rangka pengambilan  keputusan ekonomi oleh pihak-pihak eksternal pemerintah daerah yang memerlukan”.
Menurut Indra Bastian (2007:15 )akuntansi sector public dapat didefinisikan sebagai “...mekanisme teknis dan analisis akuntansi yang diterapkan pengelolaan dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi Negara dan departemen-departemen di bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada proyek-proyek kerjasama sector public dan swasta”.
Menurut Dedi Nordiawan (2006:35)akuntansi  sector public adalah  “Proses pencatatan, pengklasifikasian, penganalisisan dan pelaporan transaksi keuangan dari suatu organisasi publik yang menyediakan informasi keuangan bagi para pemakai laporan keuangan yang berguna untuk pengambilan keputusan”
PERBEDAAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK DAN AKUNTANSI SEKTOR SWASTA (KOMERSIAL)
 Terdapat beberapa perbedaan dan persamaan antara akuntansi untuk sektor publik dan akuntansi untuk sektor komersial. Perbedaan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
No
Perbedaan
Sektor Publik/Pemerintahan
Sektor Swasta/Komersial
1
Tujuan Organisasi
Nonprofit motif
Profit motif
2
Sumber Pendanaan
Pajak, Retribusi, Utang, Obligasi Pemerintah, Laba BUMN/ BUMD, Penjualan aset Negara, dsb; Sumbangan, Hibah.
Pembiayaan internal: Modal sendiri, laba ditahan, penjualan aktiva. Pembiayaan Eksternal: Utang Bank, Obligasi, penerbitan saham
3
Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban kepada publik/ masyarakat dan parlemen (DPR/ DPRD)
Pertanggungjawaban kepada pemegang saham dan kreditor
4
Struktur Organisasi
Birokratis, kaku, dan hirarkis
Fleksibel: datar, piramid, lintas fungsional, dsb
5
Karakteristik Anggaran
Terbuka untuk publik
Tertutup untuk publik
6
Sistem akuntansi
Basis Kas
Basis Akrual

Sedangkan perbedaan antara sektor publik dan sektor komersial dalam laporan keuangannya dapat dilihat dalam tabel berikut:
No.
Aspek Pembeda
Sektor Publik
Sektor Komersial
1.
Perbedaan Tujuan
  • Tidak ada perhitungan laba rugi, yang ada surplus atau defisit
  • Tidak ada revaluasi aset
  • Tidak ada penyusutan aset tetap
  • Perbandingan anggaran terhadap realisasi dari pendapatan dan belanja
  • Terdapat perhitungan laba rugi
  • Dimungkinkan adanya revaluasi aset
  • Adanya penyusutan aset tetap
  • Perbandingan antara pendapatan dan beban
2.
Masalah Pendapatan
  • Pendapatan tidak bersifat resolusing artinya tidak dapat diputar lagi untuk belanja tahun yang akan datang
  • Sebagian pendapatan diperoleh dari pemaksaan (contoh pajak)
  • Penerimaan pinjaman dijadikan pendapatan
  • Pendapatan tahun berjalan dpt disimpan untuk digunakan pada tahun yang akan datang
  • Pendapatan diperoleh dari pihak lain yg sukarela membeli barang/jasa
  • Penerimaan pinjaman dijadikan kewajiban
3.
Masalah Beban
Menggunakan istilah expenditure (belanja), dimana didalamnya termasuk :
  • Expense (beban/biaya)
  • Pembayaran angsuran
  • Pelunasan utang
  • Pembelian aset tetap
Menggunakan istilah expense (beban/biaya) dimana cakupannya lebih sempit daripada expenditure
4.
Masalah Penganggaran
  • Terdapat akuntansi anggaran (budgetory accounting)
  • Terdapat rekening-rekening anggaran
  • Perbandingan antara nggaran dan realisasinya dilakukan secara intrakompatable (dalam pembukuan)
  • Tidak terdapat akuntansi anggaran (budgetory accounting)
  • Tidak terdapat rekening- rekening anggaran
  • Perbandingan antara nggaran dan realisasinya dilakukan diluar pembukuan
5.
Masalah Kepemilikan
Tidak terdapat tanda kepemilikan, yang bertindak sebagai pemegang kebijakan adalah rakyat selaku pemegang kedaulatan tertinggi
Terdapat tanda kepemilikan, yang diwujudkan dlam modal saham, pemegang saham mayoritas dapat bertindak selaku pemegang kebijakan perusahaan
6.
Masalah Basis Akuntansi
Basis kas untuk pengakuan pendapatan dan beban, basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas
Basis akrual baik untuk pengakuan pendapatan, beban, aset, kewajiban dan ekuitas (modal)
7.
Masalah Sistem Entry yang Digunakan
Paralel antara single entry dan double entry:
  • Single entry untuk pencatatan pembukuan pada bendahara
  • Double entry untuk pencatatan dengan komputerisasi pada Sistem Akuntansi Pemerintahan
Double entry


PERBEDAAN AKUNTANSI BASIS KAS DAN AKUNTANSI BASIS AKRUAL
Konsep (Metode) Pencatatan Akuntansi. Ada dua konsep pencatatan akuntansi , yaitu :
ü Cash Basis
Pencatatan basis kas adalah teknik pencatatan ketika transaksi terjadi dimana uang benar-benar diterima atau dikeluarkan. Dengan kata lain Akuntansi Cash Basis adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar yang digunakan untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.Cash Basis akan mencatat kegiatan keuangan saat kas atau uang telah diterima misalkan perusahaan menjual produknya akan tetapi uang pembayaran belum diterima maka pencatatan pendapatan penjualan produk tersebut tidak dilakukan, jika kas telah diterima maka transaksi tersebut baru akan dicatat seperti halnya dengan “dasar akrual” hal ini berlaku untuk semua transaksi yang dilakukan, kedua teknik tersebut akan sangat berpengaruh terhadap laporan keuangan, jika menggunakan dasar akrual maka penjualan produk perusahaan yang dilakukan secara kredit akan menambah piutang dagang sehingga berpengaruh pada besarnya piutang dagang sebaliknya jika yang di pakai cash basis maka piutang dagang akan dilaporkan lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi. Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu :
1.       Pengakuan Pendapatan
Pengakuan pendapatan, saat pengakuan pendapatan pada cash basis adalah pada saat perusahaan menerima pembayaran secara kas. Dalam konsep cash basis menjadi hal yang kurang penting mengenai kapan munculnya hak untuk menagih. Makanya dalam cash basis kemudian muncul adanya metode penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya estimasi piutang tak tertagih.
2.       Pengakuan Biaya
Pengakuan biaya, pengakuan biaya dilakukan pada saat sudah dilakukan pembayaran secara kas. Sehingga dengan kata lain, pada saat sudah diterima pembayaran maka biaya sudah diakui pada saat itu juga. Untuk usaha-usaha tertentu masih lebih menggunakan cash basis ketimbang accrual basis, contoh : usaha relative kecil seperti toko, warung, mall (retail) dan praktek kaum spesialis seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah ada yang pakai credit card-tapi ingat credit card dikategorikan juga sebagai cash basis).
ü Accrual Basis
Basis Akrual (Accrual Basis) Teknik basis akrual memiliki fitur pencatatan dimana transaksi sudah dapat dicatat karena transaksi tersebut memiliki implikasi uang masuk atau keluar di masa depan. Transaksi dicatat pada saat terjadinya walaupun uang belum benar – benar diterima atau dikeluarkan.Dengan kata lain basis akrual digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana. Jadi Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.

Basis Akrual juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:
1)      Pengakuan pendapatan
Saat pengakuan pendapatan pada accrual basis adalah pada saat perusahaan mempunyai hak untuk melakukan penagihan dari hasil kegiatan perusahaan. Dalam konsep accrual basis menjadi hal yang kurang penting mengenai kapan kas benar-benar diterima. Makanya dalam accrual basis kemudian muncul adanya estimasi piutang tak tertagih, sebab penghasilan sudah diakui padahal kas belum diterima.
2)      Pengakuan biaya
Pengakuan biaya dilakukan pada saat kewajiban membayar sudah terjadi. Sehingga dengan kata lain, pada saat kewajiban membayar sudah terjadi, maka titik ini dapat dianggap sebagai starting point munculnya biaya meskipun biaya tersebut belum dibayar. Dalam era bisnis dewasa ini, perusahaan selalu dituntut untuk senantiasa menggunakan konsep accrual basis ini.