Senin, 16 Februari 2015

coretan

Apa yang mereka dapatkan
Apa yang kami terima
Apa yang harusnya tak ada
Itulah pertanyaan yang menggelitik di setiap langkah gontaiku di sini

Bagaimana mungkin aku terus berjalan
Tanpa tau arah
Tanpa tau batas
Tanpa ada yag menemani menggores tinta tinta
Menjadi pamong praja utuh hati dan jiwanya untuk bangsa

Angin abdi praja berhembus lirih di lagu lagu telingaku
Parade menggetarkan jiwaku yang sepertinya kalut
Aku takut ibu
Masih sangat takut untuk berdiri di ksatriaan ini
Bapak...
Taukah kau putrimu menangis membayangkan diri menjadi pemimpin nanti

Dalam gedung penuh sesak
Dalam lautan keringat
Kami disini berdiri berdiri jauh dari yang terkasih





Mace , pace, akang , teteh , kakak
Mereka lah yang kerap kali terdengar nyanyian nyanyiannya
bersiul setiap petak tak bernyawa

Kami memang terjamin
Kami memang nyaman
Tapi terkadang , ada nyanyian sumbang
Ada keluhan kecil yang merayap di dinding kebisuan dalam wisma

Dalam sucinya embun malam
Kami terjaga dengan tetap mengingat-Mu
Kami menangis merindu mengingat
Mereka yang jauh , mereka yang menunggu peluh kami

Ya Rabb
Kau yang maha tau apa yang kami rasa
Aku titipkan ibu dan bapak di rumah
Aku titipkan nyanyian kecilku di sana

Walaupun aku takut
Walaupun aku pernah terisak
Aku yakin Kau bersamaku
Aku yakin mereka selalu untukku

Disatu sisi  aku Tak pernah berniat berpuisi
Hanya gorean hati yang terkadang bergejolak ingin di tumpahkan

Kamis , 14 feb 13





Tidak ada komentar:

Posting Komentar