Profil
|
Nama Resmi
|
:
|
Kabupaten Lombok Tengah
|
|
Ibukota
|
:
|
Praya
|
|
Provinsi
|
:
|
NUSA
TENGGARA BARAT
|
|
Baras Wilayah
|
:
|
Utara: Kabupaten
Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
Selatan: Samudera Hindia
Barat: Kabupaten Lombok Barat
Timur: Kabupaten Lombok Timur
|
|
Luas Wilayah
|
:
|
1.095,03 Km2
|
|
Jumlah Penduduk
|
:
|
972.965 Jiwa
|
|
Wilayah Administrasi
|
:
|
Kecamatan: 12, Kelurahan : 12, Desa :112
(Permendagri No.66 Tahun 2011)
|
|
|
|
|
Merekonstruksi sejarah Kerajaan SELAPARANG Menjadi
sebuah bangunan kesejarahan yang utuh dan menyeluruh agaknya memerlukan
pengkajian yang mendalam. Permasalahan utamanya terletak pada ketersediaan
sumber-sumber sejarah yang layak dan memadai. Sumber-sumber yang ada sekarang,
seperti Babad dan lain-lain memerlukan pemilihan dan pemilahan dengan kriteria
yang valid dan reliable. Apa yang tertuang dalam
tulisan sederhana ini mungkin masih mengundang perdebatan. Karena itu sejauh
terdapat perbedaan-perbedaan dalam pengungkapannya akan dlmuat sebagai gambaran
yang masih harus ditelusurl sebagal bahan pengkajlan leblh ianjut.
Agak sulit membuat kompromi penafsiran untuk menemukan
benang merah ketiga deskripsi di atas. Minimnya sumber-sumber sejarah menjadi
alasan yang tak terelakkan.
Zaman Majapahit
Menurut Lalu Djelenga (2004), catatan sejarah
kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit
melalui ekspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343 sebagai pelaksanaan Sumpah
Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi
Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.
Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak
kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok dalam perkembangannya
meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu
Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di
tengah dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain keempat kerajaan tersebut,
terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa
kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, kuripan dan Kentawang.
Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka setelah
kerajaan Majapahit runtuh.
Di antara kerajaan dan desa itu yang paling terkemuka
dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok.
Disebutkan kota Lombok terletak di teluk Lombok yang sangat indah dan mempunyai
sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini menjadikannya banyak dikunjungi oleh
pedagang-pedagang dari Palembang, Banten, ,Gresik dan Sulawesi.
Masuknya Islam
Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu
Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri datang mengislamkan
kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya
dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang
memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan
Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.
"Susuhnii Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru
disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara
ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan
Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama
kali berlayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk
memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa
dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut
keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada faham pagan. Setelah
kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh
Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini
mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian
lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan.
Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama
Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi (tanpa
hasil) dengan Dewa Agung Klungkung.
Proses pengislaman oleh Sunan Prapen menuai hasil yang
menggembirkan, hingga beberapa tahun kemudia seluruh pulau Lombok memeluk agama
Islam, kecuali beberapa tempat yang masih memepertahankan adat istiadat lama.
Sementara di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar
dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang
atas usul Patih banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan
dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang
musuh dibandingkan posisi sebelumnya.
Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat
kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati
dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan
sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di
tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang
berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat
sampai Hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.
Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan
Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah
satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan
manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari
ini. ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa,
berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris
dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di
Nusantara, Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual
masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan
kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen.
Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka
para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia
Jawa kuno ke dalam Lontar-lontar sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain
Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis dan lain-lain. Bahkan para
pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para
Walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan
Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan
diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim
dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut
Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang
menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan
masyarakatnya. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6
lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta,
Danti, Kusuma dan Warsa.
·
Danta artinya gading gajah, apabila
dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi.
·
Danti artinya ludah, apabila sudah
dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi.
·
Kusuma artinya kembang, tidak mungkin
kembang itu mekar dua kali.
·
Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh
ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan.
Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya
tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui
bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah
dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan
hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati
(utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur).
Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil)
atau genem (rajin).
Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan
Gelgel di Bali merasa tidak senang. Gelgel yang merasa sebagai pewaris
Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan
tetapi menemui kegagalan.
Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada
1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi
dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan
sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru
dengan mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa
singkretisme Hindu-Islam. Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya
telah dapat memengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk
agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang
terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan
kelemahan di sana-sini.
Masuknya Kolonialisme
Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang
menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga
Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa
dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa
juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai.
Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel yang mulai
bangkit tidak senang. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir
Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui
perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan
bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas
Selaparang yang dianggap halaman belakang Gelgel.
Akan tetapi terjadi perubahan sikap sepeninggal Dalem
Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom. Terjadi polarisasi yang
semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam
rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel,
sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648,
salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan
dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam
gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian bara pulau Sumbawa.
Akhirnya perang antara Gowa dengan Belanda tidak
terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama dibawah pimpinan Sultan
Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus
menerima perjanjian Bungaya pada tahun 1667. Bungaya adalah sebuah wilayah yang
terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya
hubungan Gelgel-Belanda. Konon Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan
mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun
1668-1669, tetapi ekspedisi tersebut gagal.
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan
tetangganya, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu
kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada
sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari
Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya
Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan
kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun 1622.
Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan
akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang
sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan,
karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan
yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi
dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.
Di balik itu memang ada faktor-faktor lain terutama
masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai.
Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua
kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk
peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah
barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat
kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas,
ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya
meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang
dulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di
Kecamatan Jonggat.
Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas
dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan
Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula
berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan
menyerang Kerajaan Pejanggik.
Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah
menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan
hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini
terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja
beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.
Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi
Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi
hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka
Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok
setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok
Lumbung, tempat penyimpanan padi ciri khas masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
Sabuk Anteng, semacam sabuk yang spesifik bagi kaum wanita yangcoraknya khas Lombok
Tengah.
Kubah, perlambang ketaatan dan ketaqwaan masyarakat Lombok Tengahterhadap ajaran
agama yang dianutnya.
Perisai Segi Lima, benteng pertahanan dalam mengawal serta menegakkan Pancasila.
Bintang Segi Lima, melambangkan Falsafah Negara Pancasila sebagaiPandangan dan Tuntunan
Hidup.
Kapas Bermahkota Empat, dan berdasar Kelopak lima melukiskan landasan UUD 1945.
Laut Biru dengan Gelombang Putih, menggambarkan semangat perjuangan yang tidak kunjung padam sekaligus
menampakkan keadaan alam Kabupaten Lombok Tengah.
Tulisan berbunyi LOMBOK TENGAH, merupakan nama daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.
TATAS TUHU TRASNA, merupakan Motto Daerah
Songket Sukarara, Gerabah Penujak, Anyaman Beleka,
Desa Tradisional Sade & Nde, Ritual Nede, Festival Bau Nyale, Peresean,
Gendang Beleq, Jangger, Masjid Kuno Rembitan & Makam Wali Nyatoq, Makam
Ketak, Situs Batu Rijang, Makam Seriwa
Songket Sukarara
Songket merupakan kain tenun tradisional sasak
yang terkenal di Nusa TenggaraBarat bahkan sampai keluar daerah
dan Mancanegara. Souvenir inibisa didapati di daerah objek
wisata Lombok Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan
Jonggat yang merupakan desa tempat penenun membuat kain
songket ini, berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung
tertarikmenyaksikan cara pembuatan kain songket yang
dibuat oleh wanitadengan berpakain tradisional khas sasak
bias berkunjung menyaksikannya secara langsung ke
Desa Sukarara.
Gerabah Penujak
Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan penduduk setempatmembentuk
dan menghaluskan tanah liat menjadi bentuk yangmengagumkan yaitu gerabah.
Keahlian ini diperoleh sejak dahulu ketika runtuhnya kerajaan
hindu majapahit abad ke 16 dengan metode tradisional putar dan
coiling. Gerabah Penujak merupakan komoditi ekspor. Peminatyang
menginginkan gerabah bisa diperoleh di art shops atau langsung keDesa
Penujak Kecamatan Praya Barat sekitar 7 Km selatan Kota Praya.Anyaman
Beleka.
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksianyaman yang
terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya KotaPraya, kecamatan
Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduksetempat juga
mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besimembuat keris. Pengunjung
bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek
wisata atau di Desa Beleke.