Minggu, 26 April 2015

Senja dari Bapak

Sore di pelataran kampus, aku duduk dan menatap kata-kata dalam buku di sebuah kursi panjang. . Seorang kawan, datang menghampiriku dan memperlihatkan kado ulang tahun yang baru saja ia terima . “Lihatlah, ayahku membelikan sebuah handphone terbaru untukku!”,  dia tampak sangat bergembira. “Ini kado ulang tahunku yang paling keren, ayahku memang selalu tahu keinginan putrinya”.

Aku tersenyum . “Lihatlah , sungguh hebat ayahmu memberikan gadget yang sangat mahal itu” .
 “Tentu saja , ayahku adalah orang paling pengertian sedunia” .  
“Bukankah beberapa hari yang lalu kamu juga berulang tahun ? apa hadiah yang di berikan ayahmu ?” , tanpa ragu ia mengorek jawabanku .

“Baru pagi tadi, dia memberiku hadiah yang tak sebanding harganya dengan gadgetmu itu!” .  aku tersenyum lagi memandang kotak handphone kawanku . “Benarkah ? apa yang lebih mahal dari handphone ini ? setahuku dari seluruh teman-teman kita, akulah yang pertama memiliki handphone seperti ini”.
“Iya , aku tidak berbohong . Bahkan bukan hanya pagi tadi, setiap seperempat malam ayahku selalu memberikan kado . Bisakah kau bayangkan begitu banyak kebahagaiananku ?” dengan sombongnya aku bercerita tentang Bapak.

“ Kau pasti berbohong ! buktinya aku tidak pernah melihat kado-kado itu di kamarmu !” lagipula, Ayahmu kan hanya seorang pegawai negeri biasa…"  tak mau kalah ia menyela ucapanku.

Senja menamakan percakapanku ini dengan judul Bapak . Ratusan kilometer dari tempatku berpijak, berjarak waktu satu jam, Magrib memberikan bungkusan kado untukku yang terbungkus rapi dalam doa seorang Pria pendiam, dialah Bapak.

“Kau lihat, senja itu ? dia selalu menjadi pengantar kado untukku”.
“Pengantar kado?”.
“Iya, senja adalah pengantar kado dari Bapak untukku”.
“Aku tak pernah punya gadget sepertimu, aku tak pernah punya kado-kado mahal dari ayah, aku hanya punya senja yang memberiku pertanda, bahwa Bapak di rumah mengirimkan doa dalam diam untukku . Setiap hari, tidak pernah alpa Bapak mengirimkan hadiah terbaiknya. Tidak banyak kata-kata, tetapi rasa cinta yang berjuta-juta”.


Hadiah dari Bapak tak berwujud untukku , kawan . Tapi senja adalah pengantar do’a darinya . Aku tersenyum , bersama kiriman doa dari senja yang baru saja aku terima. Bertepatan dengan kiriman denting BBM yang baru saja di terima kawanku .

Kamis, 23 April 2015

tukang cat

selamat malam tukang cat di hatiku
aku payah menyokongmu
aku letih membolak-balikkan debu

kini waktunya kita sepi
meletih dan menepi
cinta tak perlu api
cinta hanya perlu hati


Senin, 20 April 2015

Puisi tentang Puisi

aku berusaha mengenalmu
tapi kau berbelit
aku berusaha mencumbumu
tapi kau makin melejit

makin menyeruak nafas
makin memuncak hasrat
makin meninggi rayuan hiperbolamu

ada makna di balik katamu
ada suara di balik goresanmu

Hanyutkan aku dalam derasnya estetika dirimu
Hilangkan nafas biadab mereka dalam untaian katamu


[sebuah puisi untuk "puisi"]

Selasa, 31 Maret 2015

Si Cewek, Seorang Wanita, dan Aku .

Pertengahan Maret, 2015

“Menangislah widie ,, air mata adalah salah satu jalan keluar kelegaan hatimu !” hati cewek ku berujar meraung raung . Satu sisi hatiku yang lain “kamu ini wanita , inilah liku untuk menjadi dewasa ! buang ego cewekmu jauh-jauh wid” .

20 tahun, anak pertama, merantau , dan tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan. Begitulah hati cewekku berciri . Hari ini, kemarin, dan mundur ke beberapa hari yang lalu , adalah rentetan waktu yang selalu di sesalinya .  

Aku tidak kuat jika di cueki teman satu kamar. Mbak Ayu, kupanggil mbak karena usianya memang lebih matang . Bukan hanya dalam angka , kadar kedewasaan dan wanitanya tertuang netral di antara kamar ini. Dan , akulah si trouble maker untuknya.

***

“Mbak, kamu ga mau lagi ngomong sama aku ?
“…………”
“Mbak, kamu mau dengerin aku ngomong ga ? sekali ini aja”
Tetap  “….. ….”
“Mbak,,, aku …..” . Akhirnya tangisan itu tumpah seperti kuah bakso yang tiba-tiba kehilangan mangkoknya .
Mbak ayu tersenyum . sinis .
“Makin berang lah hati awak di buat orang ni !”
“Nangis aja wid.. nanti dia akan luluh melihat air matamu,  tumpahkan sebanyak mungkin di hadapannya !” .Hati cewek ku tiba-tiba menyembul di ujung bantal .

Bed seakan tau hatiku . Kusut . karena memang aku bergulat membolak-balikkan badan . Ngomong , jangan, ngomong, jangan, dan akhirnya , NGOMONG adalah jawabannya.

“Udah puas nangisnya anak cengeng ?”. Mbak ayu tiba-tiba mengalunkan suara merdunya di antara tangisku . Headsetnya masih terpasang, aku mengira ia memang sedang mendengarkan music. Ternyata, dia mendengarkan paraunya tangisku malam itu .
Sudah agak larut . Sekitar pukul 11 malam . Aku dan mbak ayu berputar menyelam dalam ego masing masing. 

“Hey, ayolah widie . ingat umur! Air mata bukan jawaban masalahmu . akan ada lebih besar lagi, berjuta-juta lagi yang harus kau hadapi nanti . Rembesan air mata hanya akan menambah bebanmu!”. Hati wanitaku tak kalah menggebu-gebu bergejolak dalam pikiran dan hati .

“Malam ini waktunya untuk bersenang-senang wid, lewati masa mudamu dengan teman-teman. Merengek saja pada ibu . bilang kalu kau tidak betah di tahan di induk semang ala penjara ini !” memang si cewek ini tak pernah mau mengalah.

Seperti setan dan malaikat, hati cewek dan hati wanita yang selalu ingin di dahulukan . Dan lebih sering hati wanitaku lebih memilih untuk mengurung dirinya . Tak menampakkan wajahnya, tak ingin bertengkar melawan si hati cewek yang selalu lebih eksis.

“Kamu sampe kapan mau nangis ngerengek ngelapor ke ibu kamu wid ?”. Mbak ayu nyeletuk seakan tau obrolan antara hati cewek dan wanitaku .
“Kamu dan aku sama-sama merantau, kamu dan aku sama-sama udah ditempa di kampus ini, kamu dan aku sama-sama perempuan, tapi bedanya , aku wanita dan kamu masih cewek kemaren !” 
Berdehemlah hati wanitaku .  Mbak Ayu benar, dan sisi wanitaku yang pemalu juga benar . Betapa lemahnya aku . Betapa kekanak-kanakannya aku . aku mengusap air mata yang seperti keran bocor tak mau berhenti.  “aku ga bisa mbak…”

“Aku ga bisa dicuekin orang , aku ga siap untuk di benci , dan aku ga mau ada orang yang ga nyaman karena sikapku . maaf mbak, aku selalu bikin mbak kesel …”

Tampaknya aku memang memasang bordiran wajah yang paling memelas .  Paling tak tahan, paling ingin dikasihani atau di kasih uang juga apalagi.

***

Mbak ayu , seorang kawan kampus yang baru kali ini aku mengenal dekat dirinya . Aku tak pernah menyangka, akan dapat perilaku super cuek dari orang ini . Baru 4 hari tinggal sekamar di rumah induk semang, dia berhasil membuatku berantakan.

“kamu harus menyesuaikan keadaan, bukan kamu yang harus disesuaikan !” . “Aku disini hidup, mendengar, melihat , merasakan !” sepertinya tumpah sudah kemarahan Mbak Ayu padaku. 

“kita belajar panca indera kaliii !!!!” hati cewekku usil, segera kutepuk jidatnya . Hussshhh…..

“Iya mbak, karena aku juga disini seperti mbak, aku juga merasakan. Merasa di cueki, merasa tidak penting , merasa tidak didengar, jadi aku harus tau alasan kenapa mbak bersikap begitu padaku …” Aku bicara tanpa kontrol, bercampur air mata .

“Introspeksi diri , sadari apa yang membuat orang tidak nyaman berada di dekatmu !” . Begitu jawabnya, ketus, tidak peduli, serta pas sekali menusuk hatiku .

Mulutmu  harimaumu, memang benar . Sangat benar. Perkataan mbak ayu menorehkan luka seperti sayatan harimau, bahkan walaupun aku tak pernah tau rasanya di belai kuku harimau. Mungkin beda tipis.
Aku menyibakkan rambutku , yang telah bercampur keringat dan air mata . “Maaf mbak, aku cuman bisa bilang maaf . aku bingung …”

Hati cewek menyembul lagi   “buat apa kau minta maaf sedangkan responnya masih saja begitu, dia marah-marah terus wid, nangis wid, gas teroos !”

Si Wanita bernyanyi lagi di telingaku “Bicarakan wid, tapi tidak dengan air mata . Hapus sungai di pipimu itu, dan segera selesaikan. Jangan terus-terusan sibuk memproduksi air mata !”.

Aku menyambut , “Oke mbak, aku mungkin terlalu lemah. Tapi aku ingin menyelesaikan ini karena kita perlu kenyamanan, baik aku ataupun mbak ga mungkin terus diam begini” .
Mbak ayu, sosok jawa yang harusnya sesuai dengan namanya . Tapi tidak kutemukan pada orang aneh satu ini, pikiran ku mulai dirasuki setan.

***
“Urusanmu untuk minta maaf sudah selesai to , sekarang kamu santai aja . Aku mau maafin atau enggak ya urusanku . aku males ngomong sama kamu untuk beberapa hari ini , aku nggak tau sampai kapan . Biarin aja semuanya ngalir seperti air , kalau kamu bisa berubah ya sukur !” . Sangat-sangat-sangat pedas lidahnya menusukku.

Aku kacau, namun kadar wanitaku mulai berkhotbah . “Dia hanya mengujimu wid, yang penting kamu udah minta maaf dan cobalah untuk tunjukkan perubahanmu, sebaik mungkin. Walau kamu nggak tau salahmu apa , all is well !” begitu katanya.

Hormon cewekku , mengerang.  
Betapa bodohnya kamu wid . Rayuan tangismu kurang mengena !”

Si cewek dan dan seorang wanita di hatiku, terus bergumul, beraduk, seperti adonan kue yang siap di goreng di minyak panas . Dan aku , kepalaku terasa sesak akibat perkelahian mereka .
Lampu mati, pikiranku gelap, hatiku mulai meredup sedikit demi sedikit .

“Astagfirullah ,  ..” . Kini hanya terngiang suara malaikatku , Ibu, dengan jarak ratusan kilometer dari sini . Dan akhirnya bola mataku mulai lelah dan kelopaknya mulai tertutup.


Painan, menjelang tengah malam. Aku dan pikiranku .

Terakhir Maret ini

Terakhir di Maret ini, hari terakhir bulan ini , bulan Kelahiran adik kedua.ku BAIQ HANDAYANI DWI HARTINI , bulan dimana dia merasakan 17 tahunnya . Hari in terakhir aku bercerita tentang Maret. dan semoga menjadi hari terakhir juga aku untuk mengeluh.

17 tahun , semoga dia berbahagia atas ini . semoga dia melepas keluh kesahnya di usia ini . dan semoga aku , ibuk, dan bapak mulai di perlihatkan semua kebaikannya . adikku tercinta Yanik. Aku bukan lupa untuk memberimu sekedar kado kecil , bukan lupa ulang tahunmu, hanya jarak sedikit menghalangiku . Ah, tapi sebenarnya cintaku tak pernah berbatas untukmu . Tulisan ini juga sedikit mewakili rinduku yang jauh lebih besar lagi . ya, aku hanya mampu menulis ini . Semoga 17 tahun mengajarkanmu untuk lebih berharga, lebih memilih jalan yang lurus, lebih paham peranmu sebagai penggantiku di rumah beberapa tahun ini sebagai Sulung bagi Rizqy dan Trasna.
teruntuk kamu, yang semoga selalu memuliakan Agamamu, Ibadahmu, dan Cinta untuk Keluargamu , adikku, sahabatku, dan penjaga sikapku Baiq Handayani .

Maret ini, aku juga harus memasuki kehidupan baru . Cerita baru, kawan baru, pelajaran baru di kampung orang . Praktek lapangan 3, di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Tanah yang harus dikenal dan dikenang . Tinggal bersama orang tua asuh , adik asuh, dan saudara-saudara di kantor . Bah, betapa repotnya aku membaur , bukan keahlianku memang . Tapi seperti kata mbak Ayu , Aku harus menyesuaikan , bukan disesuaikan . Hahah, nasehat seorang yang merasa dewasa, namun kurang bisa mendewasakan diri. Sudahlah, setiap orang berbeda . Dan dari sini lah aku belajar menghargai .
Disini juga aku merasa benar benar sangat merindukan rumah . Sarapan pagi bersama Ibu, Bapak, Yaniq, Rizqy dan Trasna . Ibuku yang cantik ke kantor, Bapak ke kantor, adik-adikku sekolah , dan aku bahagia hanya menunggu di rumah seperti pengangguran . Oh cuti, cepatlah jemput aku dan bawa terbang diriku ke Lombok . 

Dan , stu hal mengejutkan . 
"kakak Iqy dapet juara 1 lomba menyanyi satu kecamatan !!! "
sumringah Ibu yang menelpon saat sibuk di kantor , menambah sumringahnya juga hatiku . Hahahaha

Selamat untuk Baiq Rizqia Rahmawati , princess ketiga di rumahku . Semoga bangga untukmu lebih banyak lagi yang berkunjung . :* :* :*

Maret ini , aku sudah mencoba melakukan yang terbaik. Kurangi makan, kurangi mengeluh, kurangi menangis, menambah ibadah, menambah kawan, menambah tabungan, dan menambah rinduku pada Rumah yang semakin menggunung .

satu hal yang selalu aku harapkan, setiap hari, setiap akhir, aku ingin mengakhiri keluhanku pada apa saja yang aku temui. Amiin

Kamis, 12 Maret 2015

Lukisan Manis di Pantai Pink

Aku terpukau. Kagum. Pantai pink dan bulirnya yang merona seperti pipiku menyisakan rindu tak berujung untuk Lombok . Langit biru dengan gumpalan awan, lengkap dengan deburan ombak dan karang terjal di balik bukit . Yanik , Rizky , dan Trasna , berceloteh riang menyiramkan air tubuhku .

"Jangan terlalu ajak adikmu ke tengah nak !" Ibu yang menunggu di berugaq tak jauh dari barisan perahu menghidupkan alarmnya  . Aku segera berhamburan dengan penuh pasir ke arah Malaikat penjaga ini.

Kaus kuning , longgar dan celana pendek serta kaca mata hitam . Sosok aku tak hentinya berdecak kagum . Lombok selalu menyajikan sunguhan yang tak pernah pelak untukku . Bulir pasir merah muda , di balik gua yang tersusun atas pepohonan kering berbaris rapi menyambut kedatangan kami beberapa saat yang lalu .

Pantai Pink , sebagian kecil surga titipan di Gumi Lombok. Ini adalah pertama kalinya aku kemari. 

IPDN membuatku harus meninggalakan rumah dan Lombok. Tempat yang selalu memberikan alasan untuk merindukannya . Dan kini, aku disini bersama Ibu, Bapak, dan adik-adikku yang sudah sejak 6 bulan lalu tak jumpa . Hhh


Bercengkrama bersama Bapak, sambil disiapkan makan siang beralaskan tikar yang kami bawa dari rumah . Lauk sayur bayam dan sambal terasi khas Lombok, Kerupuk, dan Ikan bakar di tepi pantai . Oh,Manisnya hari ini. 

Kaki yang terperban dengan berjalan menggunakan tongkat penyangga . Agaknya keadaan kaki Bapak memang sedikit mengganjal untukku . 
"Bapak, kakinya ndak apa-apa kalau diselonjorkan ? " memperbaiki posisi dudukku dan mengelus perban di engkel bapak.

Bapak hanya tersenyum. "Kamu besok harus kembali ke Bukittinggi , tak ada alasan Bapak menolak menemanimu liburan hari ini" ,  "Kaki bapak juga perlu di ajak jalan-jalan biar ndak kaku !" .

Aku tertegun , Bapak yang biasanya selalu sibuk menghabiskan hari-harinya di kantor, koperasi, dan urusan lainnya.
Selama di Bukittinggi, ibu sering mengabarkan bahwa bapak akhir-akhir ini terlambat pulang . Mengurus Koperasi yang dikelola keluarga kami . Hasilnya memang tak banyak, namun tidak hanya cukup untuk menghidupi keluarga kami, melainkan beberapa keluarga lain yang membutuhkan . Bapak memperkerjakan lumayan kuantitas pegawai . 
***

Musibah tak dapat di alihkan . Tiga hari yang lalu , Bapak tergelincir dari sepeda motornya sepulang dari Koperasi. Engkelnya sedikit bergeser, namun tak parah . Pemulihannya mungkin sekitar 2 minggu .

Dan hari ini , Bapak memilih disini.
Bersama angin Pantai, bernyanyi seiring ombak dan mencipratkan kesejukan di hatiku .

Yanik, Rizqy, dan Trasna tampak berlari menuju ke arah kami . 
"Lapaaaaarrrrr !!!"

Ibu dengan cekatan menyiapkan lauk pauk untuk putri-putri rajanya . 


hhh, sebuah lukisan indah di hari terakhirku di Lombok . Di ujung pulau yang hening. Sebelum berkutat lagi dengan kampus, kuliah,dan asrama . 
Sebuah lagu berdendang seiring decak lapar aku dan keluarga .
Nyanyian perut yang lapar, deburan ombak, berkolaborasi dengan hatiku yang bernyanyi tak karuan .


Selalu ada alasan merindukan Lombok dan seisinya .

Rabu, 11 Maret 2015

Menulis

Hal yang selalu saya sukai, sekaligus hal yang membuat saya geram . Dialah menulis .
setiap kata dan bait yang mengalir dari hasil orgasme yang baik antara hati dan pikiran. Hasil penggabungan senyawa logika dan nurani yang terkadang bentrok . Menulis, sebuah karangan dari Tuhan, sebuah contekan dari Tuhan yang membuatku sedikit lebih menghargai hidupku .

Terlalu banyak orang yang harus saya sebutkan untuk mereka yang diberi karunia istimewa dari Tuhan ini . Dan bagi diri saya sendiri, saya sangat paham, sangat tahu diri jika MENULIS adalah salah satu kelemahan saya  . Namun Begitu besar keistimewaan tangan manusia ternyata , dan kita bisa melihat itu dari tulisan-tulisan mereka yang seakan membawa kita hanyut dalam bukunya.

Menulis bagi saya sebuah ancaman, karena di salah satu tips menulis yang baik, dari sekian banyak tips yang ada, saya tertarik dengan satu hal . Si penulis tips tersebut mengatakan, "menulis merupakan tolak ukur dirimu dalam menyelesaikan permasalahan hidup . Jika anda bisa menyelesaikan satu tulisan, entah tentang apapun , maka anda sudah berhasil menyelesaikan satu masalah hidup". Dan ketika saya tidak sanggup , tulisan saya beradu antar hati dan pikiran , disitulah kadang saya merasa sedih.


Saya pernah bertanya pada seorang teman, sebut saja namanya Bunga .
"apa yang membuatmu suka menulis" ? 
"saya terkadang berpikir menulis merupakan salah satu ciri kealayan yang ada di dunia ini , apalagi mereka yang suka menulis buku diary!"

"alay banget ga sih menurut kamu ? "

dan, si Bunga berkata "Menulis adalah caraku menyapa dunia jika suatu saat suaraku tak terdengar ".

Sebuah kata yang membuat saya jatuh hati .
Menulis adalah cara dia berbicara , namun dengan goresan . Dan jika kita mati, tulisan itu akan tetap hidup . Begitu kiranya si Bunga mengantarkan saya untuk belajar berbicara lewat tulisan .

Menulis, hal yang ingin selalu saya kuasai namun terkadang sering mengalahkan saya .
Menulis, hal yang mengajari saya menyapa
Menulis, obat di kala nurani saya merasa nyeri
dan menulis, yang terkadang menghantarkan saya ke kubangan bentrokan alam di hati .

Semoga Allah selalu mengizinkan saya bersenandung lewat tulisan, belajar lewat goresan.

Rabu, 04 Maret 2015

Contekan Dari Tuhan

selamat datang Maret :)

Hari ini, tepat 2 bulan sejak januari, saya masih disini. Masih tersenyum , masih berusaha dan akan terus berusaha bertahan dengan hiruk pikuk Kampus IPDN Sumatera Barat ini .

Hari ini, tepat ketika saya memilih untuk tak mengambil pilihan . Pilihan untuk malas , ataupun pilihan untuk repot . Saya tak kuasa berpihak pada salah satunya . Sebaiknya, saya berada diantara kedua pilihan itu . Saya akhirnya MALAS REPOT .

Hari ini, karena saya sedang dalam kondisi MALAS REPOT , tentunya sangat berpotensi tinggi terjadinya GALAU . Jadi saya lebih suka mengantisipasi bencana besar itu (read : galau) dengan melampiaskan dan menuliskannya di sini, di blog yang belum terjamah oleh siapapun .

Masih di hari ini, karena kampus saya berada jauh dari keramaian, jauh juga dari kesunyian, jauh dari rumah, dan sangat jauh dari kamu (yang merasa saja) saya akhirnya menenggelamkan diri sejauh-jauhnya dalam tulisan ini. Saya bisa berteriak , walaupun tak bersuara . Saya bisa membayangkan walau tak bisa merasakan. Saya bisa bersenandung walau tanpa melodi , dan saya tak tau bisa apa lagi disini .zzz


Oke, inti tulisan ini, hanya untuk menujukkan sebagian kecil usaha saya ingin bisa menulis. Entah tentang apapun . Sesuatu yang nanti layak untuk dinamakan sebuah bacaan. Oh hey, dan sejujurnya, saya belum paham apa yang baik untuk saya tulis  .

Banyak sekali , banyak hal, banyak contoh, dan banyak-banyak lagi yang lainnya para penulis handal yang memberikan tips terbaik untuk menjadi penulis yang baik . Mulai dari seorang penulis cilik (entah sekarang dia masih patut di sebut cilik atau tidak) yang saya baca novelnya pada usia sekitar 10 tahun , bernama A. ATAKA A.R "Misteri Pedang Skinheald", DEE, Asma Nadia,  Andrea Hirata, Gola Gong dan Tias Tatanka ( pasangan penulis yang sangat saya kagumi, karena meraka punya "RUMAH DUNIA" di Serang dan saya sangat-sangat-sangat ingin kesana ), Pramoedya Ananta Toer , dan beberapa artis yang BERHASIL menulis kisah mereka dalam sebuah buku . Mereka punya ribuan kisah yang akhirnya laku dikonsumsi oleh kita semua .
Bahkan para penulis cilik lain yang tergabung dalam KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) , Oh Tuhan, saya kalah dengan mereka yang masih sangat belia . Bisa kah saya sedikit saja seperti mereka ??? dari mana datangnya ribuan kata yang bisa mereka jual dengan sangat laku ? dari mana datangnya kelihaian jemari mereka dalam merangkai kalimat-kalimat itu ?

Dan, Hari ini, saya berharap Tuhan mau memberikan jawabannya melalu contekan yang di titipkan kepada saya.


Rabu, Bukittinggi menjelang senja . Di sebuah kamar yang merindukan jendela dunia .
Berikan saya contekan Tuhan :)



Kamis, 19 Februari 2015

kata

Kau tahu?
Aku selalu ingin bersamamu..
Tapi kini,bayanganmu saja tak boleh berkawan denganku
mendobrak abstrak abstrak yang tumbuh dari ilusi
dan akhirnya kau tercampak di tikungan musim

sayang.. aku mengenangmu
tapi cinta mencegat kau
di dalam drama kolosalnya bermain dengan dahlia yang terlilit
bersandiwara dan berperan dalam tangis kita
tertawa dalam luka kita

sayang.. aku memilikimu
tapi sekat selalu ada
mengikatku dalam musim restu
membubuhkan paku, mendobrak vignet yang terlukis sempurna

sayang.. cinta itu milik kita
tapi mereka iri
mereka takut kebahagiaan itu hanya kita yang punya

sayang, aku tak pandai berkata
tak mampu berdamai dengan kata
tak mampu membaca kata-kata
dan kita benar-benar tak mampu berkata
ketika cinta menolak memberi restunya pada “kita”

sayang, biar nanti saja waktu yang berkata
jika hari ini kita tak dalam satu kata
suatu saat nanti doa yang terkata
akan membuat “kita” hidup lagi.


Senin, 16 Februari 2015

coretan

Apa yang mereka dapatkan
Apa yang kami terima
Apa yang harusnya tak ada
Itulah pertanyaan yang menggelitik di setiap langkah gontaiku di sini

Bagaimana mungkin aku terus berjalan
Tanpa tau arah
Tanpa tau batas
Tanpa ada yag menemani menggores tinta tinta
Menjadi pamong praja utuh hati dan jiwanya untuk bangsa

Angin abdi praja berhembus lirih di lagu lagu telingaku
Parade menggetarkan jiwaku yang sepertinya kalut
Aku takut ibu
Masih sangat takut untuk berdiri di ksatriaan ini
Bapak...
Taukah kau putrimu menangis membayangkan diri menjadi pemimpin nanti

Dalam gedung penuh sesak
Dalam lautan keringat
Kami disini berdiri berdiri jauh dari yang terkasih





Mace , pace, akang , teteh , kakak
Mereka lah yang kerap kali terdengar nyanyian nyanyiannya
bersiul setiap petak tak bernyawa

Kami memang terjamin
Kami memang nyaman
Tapi terkadang , ada nyanyian sumbang
Ada keluhan kecil yang merayap di dinding kebisuan dalam wisma

Dalam sucinya embun malam
Kami terjaga dengan tetap mengingat-Mu
Kami menangis merindu mengingat
Mereka yang jauh , mereka yang menunggu peluh kami

Ya Rabb
Kau yang maha tau apa yang kami rasa
Aku titipkan ibu dan bapak di rumah
Aku titipkan nyanyian kecilku di sana

Walaupun aku takut
Walaupun aku pernah terisak
Aku yakin Kau bersamaku
Aku yakin mereka selalu untukku

Disatu sisi  aku Tak pernah berniat berpuisi
Hanya gorean hati yang terkadang bergejolak ingin di tumpahkan

Kamis , 14 feb 13





Minggu, 15 Februari 2015

Profil Kabupaten Lombok Tengah

Profil
Nama Resmi
:
Kabupaten Lombok Tengah
Ibukota
:
Praya
Provinsi 
:
NUSA TENGGARA BARAT
Baras Wilayah
:
Utara: Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
Selatan: Samudera Hindia
Barat: Kabupaten Lombok Barat
Timur: Kabupaten Lombok Timur
Luas Wilayah
:
1.095,03 Km2
Jumlah Penduduk
:
972.965 Jiwa 
Wilayah Administrasi
:
Kecamatan: 12, Kelurahan : 12, Desa :112

(Permendagri No.66 Tahun 2011)


Sejarah
Merekonstruksi sejarah Kerajaan SELAPARANG Menjadi sebuah bangunan kesejarahan yang utuh dan menyeluruh agaknya memerlukan pengkajian yang mendalam. Permasalahan utamanya terletak pada ketersediaan sumber-sumber sejarah yang layak dan memadai. Sumber-sumber yang ada sekarang, seperti Babad dan lain-lain memerlukan pemilihan dan pemilahan dengan kriteria yang valid dan reliable. Apa yang tertuang dalam tulisan sederhana ini mungkin masih mengundang perdebatan. Karena itu sejauh terdapat perbedaan-perbedaan dalam pengungkapannya akan dlmuat sebagai gambaran yang masih harus ditelusurl sebagal bahan pengkajlan leblh ianjut.
Agak sulit membuat kompromi penafsiran untuk menemukan benang merah ketiga deskripsi di atas. Minimnya sumber-sumber sejarah menjadi alasan yang tak terelakkan.
Zaman Majapahit
Menurut Lalu Djelenga (2004), catatan sejarah kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit melalui ekspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343 sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.
Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok dalam perkembangannya meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di tengah dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain keempat kerajaan tersebut, terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, kuripan dan Kentawang. Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka setelah kerajaan Majapahit runtuh.
Di antara kerajaan dan desa itu yang paling terkemuka dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok. Disebutkan kota Lombok terletak di teluk Lombok yang sangat indah dan mempunyai sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini menjadikannya banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Palembang, Banten, ,Gresik dan Sulawesi.
Masuknya Islam
Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri datang mengislamkan kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.
"Susuhnii Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama kali berlayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada faham pagan. Setelah kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan. Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi (tanpa hasil) dengan Dewa Agung Klungkung.
Proses pengislaman oleh Sunan Prapen menuai hasil yang menggembirkan, hingga beberapa tahun kemudia seluruh pulau Lombok memeluk agama Islam, kecuali beberapa tempat yang masih memepertahankan adat istiadat lama.
Sementara di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang atas usul Patih banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang musuh dibandingkan posisi sebelumnya.
Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat sampai Hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.
Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari ini. ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa, berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di Nusantara, Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen. Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia Jawa kuno ke dalam Lontar-lontar sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis dan lain-lain. Bahkan para pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para Walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan masyarakatnya. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6 lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta, Danti, Kusuma dan Warsa.
·         Danta artinya gading gajah, apabila dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi.
·         Danti artinya ludah, apabila sudah dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi.
·         Kusuma artinya kembang, tidak mungkin kembang itu mekar dua kali.
·         Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan.
Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati (utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur). Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil) atau genem (rajin).
Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan Gelgel di Bali merasa tidak senang. Gelgel yang merasa sebagai pewaris Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan tetapi menemui kegagalan.
Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada 1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru dengan mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa singkretisme Hindu-Islam. Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya telah dapat memengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan kelemahan di sana-sini.
Masuknya Kolonialisme
Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai.
Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel yang mulai bangkit tidak senang. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas Selaparang yang dianggap halaman belakang Gelgel.
Akan tetapi terjadi perubahan sikap sepeninggal Dalem Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom. Terjadi polarisasi yang semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel, sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648, salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian bara pulau Sumbawa.
Akhirnya perang antara Gowa dengan Belanda tidak terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus menerima perjanjian Bungaya pada tahun 1667. Bungaya adalah sebuah wilayah yang terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya hubungan Gelgel-Belanda. Konon Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun 1668-1669, tetapi ekspedisi tersebut gagal.
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangganya, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun 1622.
Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan, karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.
Di balik itu memang ada faktor-faktor lain terutama masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai. Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas, ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang dulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di Kecamatan Jonggat.
Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan menyerang Kerajaan Pejanggik.
Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.
Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.







Arti Logo
Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok
Lumbung, tempat penyimpanan padi ciri khas masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
Sabuk Anteng, semacam sabuk yang spesifik bagi kaum wanita yangcoraknya khas Lombok Tengah.
Kubah, perlambang ketaatan dan ketaqwaan masyarakat Lombok Tengahterhadap ajaran agama yang dianutnya.
Perisai Segi Lima, benteng pertahanan dalam mengawal serta menegakkan Pancasila.
Bintang Segi Lima, melambangkan Falsafah Negara Pancasila sebagaiPandangan dan Tuntunan Hidup.
Kapas Bermahkota Empat, dan berdasar Kelopak lima melukiskan landasan UUD 1945.
Laut Biru dengan Gelombang Putih, menggambarkan semangat perjuangan yang tidak kunjung padam sekaligus menampakkan keadaan alam Kabupaten Lombok Tengah.
Tulisan berbunyi LOMBOK TENGAH, merupakan nama daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.
TATAS TUHU TRASNA, merupakan Motto Daerah







Nilai Budaya
Songket Sukarara, Gerabah Penujak, Anyaman Beleka, Desa Tradisional Sade & Nde, Ritual Nede, Festival Bau Nyale, Peresean, Gendang Beleq, Jangger, Masjid Kuno Rembitan & Makam Wali Nyatoq, Makam Ketak, Situs Batu Rijang, Makam Seriwa
Songket Sukarara
Songket merupakan kain tenun tradisional sasak yang terkenal di Nusa TenggaraBarat bahkan sampai keluar daerah dan Mancanegara. Souvenir inibisa didapati di daerah objek wisata Lombok Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan Jonggat yang merupakan desa tempat penenun membuat kain songket ini, berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung tertarikmenyaksikan cara pembuatan kain songket yang dibuat oleh wanitadengan berpakain tradisional khas sasak bias berkunjung menyaksikannya secara langsung ke Desa Sukarara.
Gerabah Penujak
Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan penduduk setempatmembentuk dan menghaluskan tanah liat menjadi bentuk yangmengagumkan yaitu gerabah. Keahlian ini diperoleh sejak dahulu ketika runtuhnya kerajaan hindu majapahit abad ke 16 dengan metode tradisional putar dan coiling. Gerabah Penujak merupakan komoditi ekspor. Peminatyang menginginkan gerabah bisa diperoleh di art shops atau langsung keDesa Penujak Kecamatan Praya Barat sekitar 7 Km selatan Kota Praya.Anyaman Beleka.
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksianyaman yang terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya KotaPraya, kecamatan Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduksetempat juga mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besimembuat keris. Pengunjung bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek wisata atau di Desa Beleke.