Senin, 24 April 2017

Berlalu lalang yang sembarang

hallo blog yang usang,
maaf saya sedikit melupakan anda.
semoga berkenan mengijinkan saya menulis lagi.

setelah berbulan bulan dan bertahun-tahun, saya baru membuka dan membaca lagi apa yang pernah saya tulis. dan.... saya bingung sendiri, yang nulis itu siapa? sepertinya agak berlebihan dan agak kasian. malu sendiri bacanya. tolong dimaklumi, walaupun saya tau mungkin tidak akan dimaklumi karena memang tidak ada yang membaca blog ini. hihii

baiklah, cukup nostalgianya. karena tulisan itu adalah proses. sedikit demi sedikit.
namun saya tidak ingin hanya berlalu lalang yang sembarang. walaupun memalukan, saya masih ingin mencoba. Sejujurnya blog ini terbuka lagi setelah saya mendapat rentang waktu dan free wifi lagi ! dan target selanjutnya adalah menulis lagi. entah apa, entah siapa yang akan menjadi objek selanjutnya. doakan semoga kali ini bisa ikut event yaaa. bye !

Minggu, 26 April 2015

Senja dari Bapak

Sore di pelataran kampus, aku duduk dan menatap kata-kata dalam buku di sebuah kursi panjang. . Seorang kawan, datang menghampiriku dan memperlihatkan kado ulang tahun yang baru saja ia terima . “Lihatlah, ayahku membelikan sebuah handphone terbaru untukku!”,  dia tampak sangat bergembira. “Ini kado ulang tahunku yang paling keren, ayahku memang selalu tahu keinginan putrinya”.

Aku tersenyum . “Lihatlah , sungguh hebat ayahmu memberikan gadget yang sangat mahal itu” .
 “Tentu saja , ayahku adalah orang paling pengertian sedunia” .  
“Bukankah beberapa hari yang lalu kamu juga berulang tahun ? apa hadiah yang di berikan ayahmu ?” , tanpa ragu ia mengorek jawabanku .

“Baru pagi tadi, dia memberiku hadiah yang tak sebanding harganya dengan gadgetmu itu!” .  aku tersenyum lagi memandang kotak handphone kawanku . “Benarkah ? apa yang lebih mahal dari handphone ini ? setahuku dari seluruh teman-teman kita, akulah yang pertama memiliki handphone seperti ini”.
“Iya , aku tidak berbohong . Bahkan bukan hanya pagi tadi, setiap seperempat malam ayahku selalu memberikan kado . Bisakah kau bayangkan begitu banyak kebahagaiananku ?” dengan sombongnya aku bercerita tentang Bapak.

“ Kau pasti berbohong ! buktinya aku tidak pernah melihat kado-kado itu di kamarmu !” lagipula, Ayahmu kan hanya seorang pegawai negeri biasa…"  tak mau kalah ia menyela ucapanku.

Senja menamakan percakapanku ini dengan judul Bapak . Ratusan kilometer dari tempatku berpijak, berjarak waktu satu jam, Magrib memberikan bungkusan kado untukku yang terbungkus rapi dalam doa seorang Pria pendiam, dialah Bapak.

“Kau lihat, senja itu ? dia selalu menjadi pengantar kado untukku”.
“Pengantar kado?”.
“Iya, senja adalah pengantar kado dari Bapak untukku”.
“Aku tak pernah punya gadget sepertimu, aku tak pernah punya kado-kado mahal dari ayah, aku hanya punya senja yang memberiku pertanda, bahwa Bapak di rumah mengirimkan doa dalam diam untukku . Setiap hari, tidak pernah alpa Bapak mengirimkan hadiah terbaiknya. Tidak banyak kata-kata, tetapi rasa cinta yang berjuta-juta”.


Hadiah dari Bapak tak berwujud untukku , kawan . Tapi senja adalah pengantar do’a darinya . Aku tersenyum , bersama kiriman doa dari senja yang baru saja aku terima. Bertepatan dengan kiriman denting BBM yang baru saja di terima kawanku .

Kamis, 23 April 2015

tukang cat

selamat malam tukang cat di hatiku
aku payah menyokongmu
aku letih membolak-balikkan debu

kini waktunya kita sepi
meletih dan menepi
cinta tak perlu api
cinta hanya perlu hati


Senin, 20 April 2015

Puisi tentang Puisi

aku berusaha mengenalmu
tapi kau berbelit
aku berusaha mencumbumu
tapi kau makin melejit

makin menyeruak nafas
makin memuncak hasrat
makin meninggi rayuan hiperbolamu

ada makna di balik katamu
ada suara di balik goresanmu

Hanyutkan aku dalam derasnya estetika dirimu
Hilangkan nafas biadab mereka dalam untaian katamu


[sebuah puisi untuk "puisi"]

Selasa, 31 Maret 2015

Si Cewek, Seorang Wanita, dan Aku .

Pertengahan Maret, 2015

“Menangislah widie ,, air mata adalah salah satu jalan keluar kelegaan hatimu !” hati cewek ku berujar meraung raung . Satu sisi hatiku yang lain “kamu ini wanita , inilah liku untuk menjadi dewasa ! buang ego cewekmu jauh-jauh wid” .

20 tahun, anak pertama, merantau , dan tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan. Begitulah hati cewekku berciri . Hari ini, kemarin, dan mundur ke beberapa hari yang lalu , adalah rentetan waktu yang selalu di sesalinya .  

Aku tidak kuat jika di cueki teman satu kamar. Mbak Ayu, kupanggil mbak karena usianya memang lebih matang . Bukan hanya dalam angka , kadar kedewasaan dan wanitanya tertuang netral di antara kamar ini. Dan , akulah si trouble maker untuknya.

***

“Mbak, kamu ga mau lagi ngomong sama aku ?
“…………”
“Mbak, kamu mau dengerin aku ngomong ga ? sekali ini aja”
Tetap  “….. ….”
“Mbak,,, aku …..” . Akhirnya tangisan itu tumpah seperti kuah bakso yang tiba-tiba kehilangan mangkoknya .
Mbak ayu tersenyum . sinis .
“Makin berang lah hati awak di buat orang ni !”
“Nangis aja wid.. nanti dia akan luluh melihat air matamu,  tumpahkan sebanyak mungkin di hadapannya !” .Hati cewek ku tiba-tiba menyembul di ujung bantal .

Bed seakan tau hatiku . Kusut . karena memang aku bergulat membolak-balikkan badan . Ngomong , jangan, ngomong, jangan, dan akhirnya , NGOMONG adalah jawabannya.

“Udah puas nangisnya anak cengeng ?”. Mbak ayu tiba-tiba mengalunkan suara merdunya di antara tangisku . Headsetnya masih terpasang, aku mengira ia memang sedang mendengarkan music. Ternyata, dia mendengarkan paraunya tangisku malam itu .
Sudah agak larut . Sekitar pukul 11 malam . Aku dan mbak ayu berputar menyelam dalam ego masing masing. 

“Hey, ayolah widie . ingat umur! Air mata bukan jawaban masalahmu . akan ada lebih besar lagi, berjuta-juta lagi yang harus kau hadapi nanti . Rembesan air mata hanya akan menambah bebanmu!”. Hati wanitaku tak kalah menggebu-gebu bergejolak dalam pikiran dan hati .

“Malam ini waktunya untuk bersenang-senang wid, lewati masa mudamu dengan teman-teman. Merengek saja pada ibu . bilang kalu kau tidak betah di tahan di induk semang ala penjara ini !” memang si cewek ini tak pernah mau mengalah.

Seperti setan dan malaikat, hati cewek dan hati wanita yang selalu ingin di dahulukan . Dan lebih sering hati wanitaku lebih memilih untuk mengurung dirinya . Tak menampakkan wajahnya, tak ingin bertengkar melawan si hati cewek yang selalu lebih eksis.

“Kamu sampe kapan mau nangis ngerengek ngelapor ke ibu kamu wid ?”. Mbak ayu nyeletuk seakan tau obrolan antara hati cewek dan wanitaku .
“Kamu dan aku sama-sama merantau, kamu dan aku sama-sama udah ditempa di kampus ini, kamu dan aku sama-sama perempuan, tapi bedanya , aku wanita dan kamu masih cewek kemaren !” 
Berdehemlah hati wanitaku .  Mbak Ayu benar, dan sisi wanitaku yang pemalu juga benar . Betapa lemahnya aku . Betapa kekanak-kanakannya aku . aku mengusap air mata yang seperti keran bocor tak mau berhenti.  “aku ga bisa mbak…”

“Aku ga bisa dicuekin orang , aku ga siap untuk di benci , dan aku ga mau ada orang yang ga nyaman karena sikapku . maaf mbak, aku selalu bikin mbak kesel …”

Tampaknya aku memang memasang bordiran wajah yang paling memelas .  Paling tak tahan, paling ingin dikasihani atau di kasih uang juga apalagi.

***

Mbak ayu , seorang kawan kampus yang baru kali ini aku mengenal dekat dirinya . Aku tak pernah menyangka, akan dapat perilaku super cuek dari orang ini . Baru 4 hari tinggal sekamar di rumah induk semang, dia berhasil membuatku berantakan.

“kamu harus menyesuaikan keadaan, bukan kamu yang harus disesuaikan !” . “Aku disini hidup, mendengar, melihat , merasakan !” sepertinya tumpah sudah kemarahan Mbak Ayu padaku. 

“kita belajar panca indera kaliii !!!!” hati cewekku usil, segera kutepuk jidatnya . Hussshhh…..

“Iya mbak, karena aku juga disini seperti mbak, aku juga merasakan. Merasa di cueki, merasa tidak penting , merasa tidak didengar, jadi aku harus tau alasan kenapa mbak bersikap begitu padaku …” Aku bicara tanpa kontrol, bercampur air mata .

“Introspeksi diri , sadari apa yang membuat orang tidak nyaman berada di dekatmu !” . Begitu jawabnya, ketus, tidak peduli, serta pas sekali menusuk hatiku .

Mulutmu  harimaumu, memang benar . Sangat benar. Perkataan mbak ayu menorehkan luka seperti sayatan harimau, bahkan walaupun aku tak pernah tau rasanya di belai kuku harimau. Mungkin beda tipis.
Aku menyibakkan rambutku , yang telah bercampur keringat dan air mata . “Maaf mbak, aku cuman bisa bilang maaf . aku bingung …”

Hati cewek menyembul lagi   “buat apa kau minta maaf sedangkan responnya masih saja begitu, dia marah-marah terus wid, nangis wid, gas teroos !”

Si Wanita bernyanyi lagi di telingaku “Bicarakan wid, tapi tidak dengan air mata . Hapus sungai di pipimu itu, dan segera selesaikan. Jangan terus-terusan sibuk memproduksi air mata !”.

Aku menyambut , “Oke mbak, aku mungkin terlalu lemah. Tapi aku ingin menyelesaikan ini karena kita perlu kenyamanan, baik aku ataupun mbak ga mungkin terus diam begini” .
Mbak ayu, sosok jawa yang harusnya sesuai dengan namanya . Tapi tidak kutemukan pada orang aneh satu ini, pikiran ku mulai dirasuki setan.

***
“Urusanmu untuk minta maaf sudah selesai to , sekarang kamu santai aja . Aku mau maafin atau enggak ya urusanku . aku males ngomong sama kamu untuk beberapa hari ini , aku nggak tau sampai kapan . Biarin aja semuanya ngalir seperti air , kalau kamu bisa berubah ya sukur !” . Sangat-sangat-sangat pedas lidahnya menusukku.

Aku kacau, namun kadar wanitaku mulai berkhotbah . “Dia hanya mengujimu wid, yang penting kamu udah minta maaf dan cobalah untuk tunjukkan perubahanmu, sebaik mungkin. Walau kamu nggak tau salahmu apa , all is well !” begitu katanya.

Hormon cewekku , mengerang.  
Betapa bodohnya kamu wid . Rayuan tangismu kurang mengena !”

Si cewek dan dan seorang wanita di hatiku, terus bergumul, beraduk, seperti adonan kue yang siap di goreng di minyak panas . Dan aku , kepalaku terasa sesak akibat perkelahian mereka .
Lampu mati, pikiranku gelap, hatiku mulai meredup sedikit demi sedikit .

“Astagfirullah ,  ..” . Kini hanya terngiang suara malaikatku , Ibu, dengan jarak ratusan kilometer dari sini . Dan akhirnya bola mataku mulai lelah dan kelopaknya mulai tertutup.


Painan, menjelang tengah malam. Aku dan pikiranku .

Terakhir Maret ini

Terakhir di Maret ini, hari terakhir bulan ini , bulan Kelahiran adik kedua.ku BAIQ HANDAYANI DWI HARTINI , bulan dimana dia merasakan 17 tahunnya . Hari in terakhir aku bercerita tentang Maret. dan semoga menjadi hari terakhir juga aku untuk mengeluh.

17 tahun , semoga dia berbahagia atas ini . semoga dia melepas keluh kesahnya di usia ini . dan semoga aku , ibuk, dan bapak mulai di perlihatkan semua kebaikannya . adikku tercinta Yanik. Aku bukan lupa untuk memberimu sekedar kado kecil , bukan lupa ulang tahunmu, hanya jarak sedikit menghalangiku . Ah, tapi sebenarnya cintaku tak pernah berbatas untukmu . Tulisan ini juga sedikit mewakili rinduku yang jauh lebih besar lagi . ya, aku hanya mampu menulis ini . Semoga 17 tahun mengajarkanmu untuk lebih berharga, lebih memilih jalan yang lurus, lebih paham peranmu sebagai penggantiku di rumah beberapa tahun ini sebagai Sulung bagi Rizqy dan Trasna.
teruntuk kamu, yang semoga selalu memuliakan Agamamu, Ibadahmu, dan Cinta untuk Keluargamu , adikku, sahabatku, dan penjaga sikapku Baiq Handayani .

Maret ini, aku juga harus memasuki kehidupan baru . Cerita baru, kawan baru, pelajaran baru di kampung orang . Praktek lapangan 3, di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Tanah yang harus dikenal dan dikenang . Tinggal bersama orang tua asuh , adik asuh, dan saudara-saudara di kantor . Bah, betapa repotnya aku membaur , bukan keahlianku memang . Tapi seperti kata mbak Ayu , Aku harus menyesuaikan , bukan disesuaikan . Hahah, nasehat seorang yang merasa dewasa, namun kurang bisa mendewasakan diri. Sudahlah, setiap orang berbeda . Dan dari sini lah aku belajar menghargai .
Disini juga aku merasa benar benar sangat merindukan rumah . Sarapan pagi bersama Ibu, Bapak, Yaniq, Rizqy dan Trasna . Ibuku yang cantik ke kantor, Bapak ke kantor, adik-adikku sekolah , dan aku bahagia hanya menunggu di rumah seperti pengangguran . Oh cuti, cepatlah jemput aku dan bawa terbang diriku ke Lombok . 

Dan , stu hal mengejutkan . 
"kakak Iqy dapet juara 1 lomba menyanyi satu kecamatan !!! "
sumringah Ibu yang menelpon saat sibuk di kantor , menambah sumringahnya juga hatiku . Hahahaha

Selamat untuk Baiq Rizqia Rahmawati , princess ketiga di rumahku . Semoga bangga untukmu lebih banyak lagi yang berkunjung . :* :* :*

Maret ini , aku sudah mencoba melakukan yang terbaik. Kurangi makan, kurangi mengeluh, kurangi menangis, menambah ibadah, menambah kawan, menambah tabungan, dan menambah rinduku pada Rumah yang semakin menggunung .

satu hal yang selalu aku harapkan, setiap hari, setiap akhir, aku ingin mengakhiri keluhanku pada apa saja yang aku temui. Amiin

Kamis, 12 Maret 2015

Lukisan Manis di Pantai Pink

Aku terpukau. Kagum. Pantai pink dan bulirnya yang merona seperti pipiku menyisakan rindu tak berujung untuk Lombok . Langit biru dengan gumpalan awan, lengkap dengan deburan ombak dan karang terjal di balik bukit . Yanik , Rizky , dan Trasna , berceloteh riang menyiramkan air tubuhku .

"Jangan terlalu ajak adikmu ke tengah nak !" Ibu yang menunggu di berugaq tak jauh dari barisan perahu menghidupkan alarmnya  . Aku segera berhamburan dengan penuh pasir ke arah Malaikat penjaga ini.

Kaus kuning , longgar dan celana pendek serta kaca mata hitam . Sosok aku tak hentinya berdecak kagum . Lombok selalu menyajikan sunguhan yang tak pernah pelak untukku . Bulir pasir merah muda , di balik gua yang tersusun atas pepohonan kering berbaris rapi menyambut kedatangan kami beberapa saat yang lalu .

Pantai Pink , sebagian kecil surga titipan di Gumi Lombok. Ini adalah pertama kalinya aku kemari. 

IPDN membuatku harus meninggalakan rumah dan Lombok. Tempat yang selalu memberikan alasan untuk merindukannya . Dan kini, aku disini bersama Ibu, Bapak, dan adik-adikku yang sudah sejak 6 bulan lalu tak jumpa . Hhh


Bercengkrama bersama Bapak, sambil disiapkan makan siang beralaskan tikar yang kami bawa dari rumah . Lauk sayur bayam dan sambal terasi khas Lombok, Kerupuk, dan Ikan bakar di tepi pantai . Oh,Manisnya hari ini. 

Kaki yang terperban dengan berjalan menggunakan tongkat penyangga . Agaknya keadaan kaki Bapak memang sedikit mengganjal untukku . 
"Bapak, kakinya ndak apa-apa kalau diselonjorkan ? " memperbaiki posisi dudukku dan mengelus perban di engkel bapak.

Bapak hanya tersenyum. "Kamu besok harus kembali ke Bukittinggi , tak ada alasan Bapak menolak menemanimu liburan hari ini" ,  "Kaki bapak juga perlu di ajak jalan-jalan biar ndak kaku !" .

Aku tertegun , Bapak yang biasanya selalu sibuk menghabiskan hari-harinya di kantor, koperasi, dan urusan lainnya.
Selama di Bukittinggi, ibu sering mengabarkan bahwa bapak akhir-akhir ini terlambat pulang . Mengurus Koperasi yang dikelola keluarga kami . Hasilnya memang tak banyak, namun tidak hanya cukup untuk menghidupi keluarga kami, melainkan beberapa keluarga lain yang membutuhkan . Bapak memperkerjakan lumayan kuantitas pegawai . 
***

Musibah tak dapat di alihkan . Tiga hari yang lalu , Bapak tergelincir dari sepeda motornya sepulang dari Koperasi. Engkelnya sedikit bergeser, namun tak parah . Pemulihannya mungkin sekitar 2 minggu .

Dan hari ini , Bapak memilih disini.
Bersama angin Pantai, bernyanyi seiring ombak dan mencipratkan kesejukan di hatiku .

Yanik, Rizqy, dan Trasna tampak berlari menuju ke arah kami . 
"Lapaaaaarrrrr !!!"

Ibu dengan cekatan menyiapkan lauk pauk untuk putri-putri rajanya . 


hhh, sebuah lukisan indah di hari terakhirku di Lombok . Di ujung pulau yang hening. Sebelum berkutat lagi dengan kampus, kuliah,dan asrama . 
Sebuah lagu berdendang seiring decak lapar aku dan keluarga .
Nyanyian perut yang lapar, deburan ombak, berkolaborasi dengan hatiku yang bernyanyi tak karuan .


Selalu ada alasan merindukan Lombok dan seisinya .