Sore di pelataran kampus, aku duduk dan menatap kata-kata
dalam buku di sebuah kursi panjang. . Seorang kawan, datang menghampiriku dan
memperlihatkan kado ulang tahun yang baru saja ia terima . “Lihatlah, ayahku membelikan sebuah handphone terbaru untukku!”, dia tampak sangat bergembira. “Ini kado ulang
tahunku yang paling keren, ayahku memang selalu tahu keinginan putrinya”.
Aku tersenyum . “Lihatlah
, sungguh hebat ayahmu memberikan gadget yang sangat mahal itu” .
“Tentu saja , ayahku adalah orang paling pengertian sedunia” .
“Bukankah beberapa
hari yang lalu kamu juga berulang tahun ? apa hadiah yang di berikan ayahmu ?”
, tanpa ragu ia mengorek jawabanku .
“Baru pagi tadi, dia
memberiku hadiah yang tak sebanding harganya dengan gadgetmu itu!” . aku tersenyum lagi memandang kotak handphone
kawanku . “Benarkah ? apa yang lebih
mahal dari handphone ini ? setahuku dari seluruh teman-teman kita, akulah yang
pertama memiliki handphone seperti ini”.
“Iya , aku tidak
berbohong . Bahkan bukan hanya pagi tadi, setiap seperempat malam ayahku selalu
memberikan kado . Bisakah kau bayangkan begitu banyak kebahagaiananku ?” dengan
sombongnya aku bercerita tentang Bapak.
“ Kau pasti berbohong
! buktinya aku tidak pernah melihat kado-kado itu di kamarmu !” lagipula,
Ayahmu kan hanya seorang pegawai negeri biasa…" tak mau kalah ia menyela ucapanku.
Senja menamakan percakapanku ini dengan judul Bapak .
Ratusan kilometer dari tempatku berpijak, berjarak waktu satu jam, Magrib
memberikan bungkusan kado untukku yang terbungkus rapi dalam doa seorang Pria
pendiam, dialah Bapak.
“Kau lihat, senja itu ? dia selalu menjadi pengantar kado
untukku”.
“Pengantar kado?”.
“Iya, senja adalah pengantar kado dari Bapak untukku”.
“Aku tak pernah punya gadget sepertimu, aku tak pernah punya
kado-kado mahal dari ayah, aku hanya punya senja yang memberiku pertanda, bahwa
Bapak di rumah mengirimkan doa dalam diam untukku . Setiap hari, tidak pernah
alpa Bapak mengirimkan hadiah terbaiknya. Tidak banyak kata-kata, tetapi rasa
cinta yang berjuta-juta”.
Hadiah dari Bapak tak berwujud untukku , kawan . Tapi senja
adalah pengantar do’a darinya . Aku tersenyum , bersama kiriman doa dari senja
yang baru saja aku terima. Bertepatan dengan kiriman denting BBM yang baru saja
di terima kawanku .