Minggu, 26 April 2015

Senja dari Bapak

Sore di pelataran kampus, aku duduk dan menatap kata-kata dalam buku di sebuah kursi panjang. . Seorang kawan, datang menghampiriku dan memperlihatkan kado ulang tahun yang baru saja ia terima . “Lihatlah, ayahku membelikan sebuah handphone terbaru untukku!”,  dia tampak sangat bergembira. “Ini kado ulang tahunku yang paling keren, ayahku memang selalu tahu keinginan putrinya”.

Aku tersenyum . “Lihatlah , sungguh hebat ayahmu memberikan gadget yang sangat mahal itu” .
 “Tentu saja , ayahku adalah orang paling pengertian sedunia” .  
“Bukankah beberapa hari yang lalu kamu juga berulang tahun ? apa hadiah yang di berikan ayahmu ?” , tanpa ragu ia mengorek jawabanku .

“Baru pagi tadi, dia memberiku hadiah yang tak sebanding harganya dengan gadgetmu itu!” .  aku tersenyum lagi memandang kotak handphone kawanku . “Benarkah ? apa yang lebih mahal dari handphone ini ? setahuku dari seluruh teman-teman kita, akulah yang pertama memiliki handphone seperti ini”.
“Iya , aku tidak berbohong . Bahkan bukan hanya pagi tadi, setiap seperempat malam ayahku selalu memberikan kado . Bisakah kau bayangkan begitu banyak kebahagaiananku ?” dengan sombongnya aku bercerita tentang Bapak.

“ Kau pasti berbohong ! buktinya aku tidak pernah melihat kado-kado itu di kamarmu !” lagipula, Ayahmu kan hanya seorang pegawai negeri biasa…"  tak mau kalah ia menyela ucapanku.

Senja menamakan percakapanku ini dengan judul Bapak . Ratusan kilometer dari tempatku berpijak, berjarak waktu satu jam, Magrib memberikan bungkusan kado untukku yang terbungkus rapi dalam doa seorang Pria pendiam, dialah Bapak.

“Kau lihat, senja itu ? dia selalu menjadi pengantar kado untukku”.
“Pengantar kado?”.
“Iya, senja adalah pengantar kado dari Bapak untukku”.
“Aku tak pernah punya gadget sepertimu, aku tak pernah punya kado-kado mahal dari ayah, aku hanya punya senja yang memberiku pertanda, bahwa Bapak di rumah mengirimkan doa dalam diam untukku . Setiap hari, tidak pernah alpa Bapak mengirimkan hadiah terbaiknya. Tidak banyak kata-kata, tetapi rasa cinta yang berjuta-juta”.


Hadiah dari Bapak tak berwujud untukku , kawan . Tapi senja adalah pengantar do’a darinya . Aku tersenyum , bersama kiriman doa dari senja yang baru saja aku terima. Bertepatan dengan kiriman denting BBM yang baru saja di terima kawanku .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar