Pertengahan Maret, 2015
“Menangislah widie ,, air mata adalah
salah satu jalan keluar kelegaan hatimu !” hati cewek ku berujar meraung raung . Satu sisi hatiku
yang lain “kamu ini wanita , inilah liku
untuk menjadi dewasa ! buang ego cewekmu jauh-jauh wid” .
20 tahun,
anak pertama, merantau , dan tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan.
Begitulah hati cewekku berciri . Hari ini, kemarin, dan mundur ke beberapa hari
yang lalu , adalah rentetan waktu yang selalu di sesalinya .
Aku tidak
kuat jika di cueki teman satu kamar. Mbak Ayu, kupanggil mbak karena usianya
memang lebih matang . Bukan hanya dalam angka , kadar kedewasaan dan wanitanya
tertuang netral di antara kamar ini. Dan , akulah si trouble maker untuknya.
***
***
“Mbak, kamu ga mau lagi ngomong sama aku
?”
“…………”
“Mbak, kamu mau dengerin aku ngomong
ga ? sekali ini aja”
Tetap
“….. ….”
“Mbak,,, aku …..” . Akhirnya tangisan itu tumpah
seperti kuah bakso yang tiba-tiba kehilangan mangkoknya .
Mbak ayu
tersenyum . sinis .
“Makin berang lah hati awak di buat
orang ni !”
“Nangis aja wid.. nanti dia akan luluh
melihat air matamu, tumpahkan sebanyak
mungkin di hadapannya !”
.Hati cewek ku tiba-tiba menyembul di ujung bantal .
Bed
seakan tau hatiku . Kusut . karena memang aku bergulat membolak-balikkan badan
. Ngomong , jangan, ngomong, jangan, dan akhirnya , NGOMONG adalah jawabannya.
“Udah puas
nangisnya anak cengeng ?”. Mbak ayu tiba-tiba mengalunkan suara merdunya di
antara tangisku . Headsetnya masih terpasang, aku mengira ia memang sedang
mendengarkan music. Ternyata, dia mendengarkan paraunya tangisku malam itu .
Sudah agak larut
. Sekitar pukul 11 malam . Aku dan mbak ayu berputar menyelam dalam ego masing
masing.
“Hey, ayolah widie . ingat umur! Air
mata bukan jawaban masalahmu . akan ada lebih besar lagi, berjuta-juta lagi
yang harus kau hadapi nanti . Rembesan air mata hanya akan menambah bebanmu!”. Hati wanitaku tak kalah menggebu-gebu
bergejolak dalam pikiran dan hati .
“Malam ini waktunya untuk
bersenang-senang wid, lewati masa mudamu dengan teman-teman. Merengek saja pada
ibu . bilang kalu kau tidak betah di tahan di induk semang ala penjara ini !” memang si cewek ini tak pernah mau mengalah.
Seperti setan dan malaikat, hati cewek dan hati wanita yang selalu ingin di dahulukan . Dan lebih sering hati wanitaku lebih memilih untuk mengurung dirinya . Tak menampakkan wajahnya, tak ingin bertengkar melawan si hati cewek yang selalu lebih eksis.
“Kamu sampe kapan mau nangis ngerengek
ngelapor ke ibu kamu wid ?”.
Mbak ayu nyeletuk seakan tau obrolan antara hati cewek dan wanitaku .
“Kamu dan aku sama-sama merantau, kamu
dan aku sama-sama udah ditempa di kampus ini, kamu dan aku sama-sama perempuan,
tapi bedanya , aku wanita dan kamu masih cewek kemaren !”
Berdehemlah
hati wanitaku . Mbak Ayu benar, dan sisi
wanitaku yang pemalu juga benar . Betapa lemahnya aku . Betapa
kekanak-kanakannya aku . aku mengusap air mata yang seperti keran bocor tak mau
berhenti.
“aku ga bisa mbak…”
“Aku ga bisa dicuekin orang , aku ga
siap untuk di benci , dan aku ga mau ada orang yang ga nyaman karena sikapku .
maaf mbak, aku selalu bikin mbak kesel …”
Tampaknya
aku memang memasang bordiran wajah yang paling memelas . Paling tak tahan, paling ingin dikasihani atau
di kasih uang juga apalagi.
***
***
Mbak ayu ,
seorang kawan kampus yang baru kali ini aku mengenal dekat dirinya . Aku tak
pernah menyangka, akan dapat perilaku super cuek dari orang ini . Baru 4 hari
tinggal sekamar di rumah induk semang, dia berhasil membuatku berantakan.
“kamu harus menyesuaikan keadaan,
bukan kamu yang harus disesuaikan !” . “Aku disini hidup, mendengar, melihat ,
merasakan !” sepertinya tumpah sudah kemarahan Mbak Ayu padaku.
“kita belajar panca indera kaliii !!!!” hati cewekku usil, segera kutepuk
jidatnya . Hussshhh…..
“Iya mbak, karena aku juga disini
seperti mbak, aku juga merasakan. Merasa di cueki, merasa tidak penting , merasa
tidak didengar, jadi aku harus tau alasan kenapa mbak bersikap begitu padaku …” Aku bicara tanpa kontrol, bercampur air mata .
“Introspeksi diri , sadari apa yang
membuat orang tidak nyaman berada di dekatmu !” . Begitu jawabnya, ketus, tidak
peduli, serta pas sekali menusuk hatiku .
Mulutmu harimaumu, memang benar . Sangat benar.
Perkataan mbak ayu menorehkan luka seperti sayatan harimau, bahkan walaupun aku
tak pernah tau rasanya di belai kuku harimau. Mungkin beda tipis.
Aku
menyibakkan rambutku , yang telah bercampur keringat dan air mata . “Maaf mbak, aku cuman bisa bilang maaf . aku
bingung …”
Hati cewek
menyembul lagi “buat
apa kau minta maaf sedangkan responnya masih saja begitu, dia marah-marah terus
wid, nangis wid, gas teroos !”
Si Wanita bernyanyi lagi di telingaku “Bicarakan wid, tapi tidak dengan air mata . Hapus sungai di pipimu itu, dan segera selesaikan. Jangan terus-terusan sibuk memproduksi air mata !”.
Aku menyambut , “Oke mbak, aku mungkin terlalu lemah. Tapi aku ingin menyelesaikan ini karena kita perlu kenyamanan, baik aku ataupun mbak ga mungkin terus diam begini” .
Mbak ayu,
sosok jawa yang harusnya sesuai dengan namanya . Tapi tidak kutemukan pada
orang aneh satu ini, pikiran ku mulai dirasuki setan.
***
***
“Urusanmu untuk minta maaf sudah
selesai to , sekarang kamu santai aja . Aku mau maafin atau enggak ya urusanku .
aku males ngomong sama kamu untuk beberapa hari ini , aku nggak tau sampai
kapan . Biarin aja semuanya ngalir seperti air , kalau kamu bisa berubah ya
sukur !” . Sangat-sangat-sangat
pedas lidahnya menusukku.
Aku kacau,
namun kadar wanitaku mulai berkhotbah . “Dia
hanya mengujimu wid, yang penting kamu udah minta maaf dan cobalah untuk
tunjukkan perubahanmu, sebaik mungkin. Walau kamu nggak tau salahmu apa , all
is well !” begitu katanya.
Hormon cewekku , mengerang.
“Betapa bodohnya kamu wid . Rayuan tangismu kurang mengena !”
Si cewek dan dan seorang wanita di hatiku, terus bergumul, beraduk, seperti adonan kue yang siap di goreng di minyak panas . Dan aku , kepalaku terasa sesak akibat perkelahian mereka .
Lampu mati,
pikiranku gelap, hatiku mulai meredup sedikit demi sedikit .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar