Selasa, 31 Maret 2015

Si Cewek, Seorang Wanita, dan Aku .

Pertengahan Maret, 2015

“Menangislah widie ,, air mata adalah salah satu jalan keluar kelegaan hatimu !” hati cewek ku berujar meraung raung . Satu sisi hatiku yang lain “kamu ini wanita , inilah liku untuk menjadi dewasa ! buang ego cewekmu jauh-jauh wid” .

20 tahun, anak pertama, merantau , dan tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan. Begitulah hati cewekku berciri . Hari ini, kemarin, dan mundur ke beberapa hari yang lalu , adalah rentetan waktu yang selalu di sesalinya .  

Aku tidak kuat jika di cueki teman satu kamar. Mbak Ayu, kupanggil mbak karena usianya memang lebih matang . Bukan hanya dalam angka , kadar kedewasaan dan wanitanya tertuang netral di antara kamar ini. Dan , akulah si trouble maker untuknya.

***

“Mbak, kamu ga mau lagi ngomong sama aku ?
“…………”
“Mbak, kamu mau dengerin aku ngomong ga ? sekali ini aja”
Tetap  “….. ….”
“Mbak,,, aku …..” . Akhirnya tangisan itu tumpah seperti kuah bakso yang tiba-tiba kehilangan mangkoknya .
Mbak ayu tersenyum . sinis .
“Makin berang lah hati awak di buat orang ni !”
“Nangis aja wid.. nanti dia akan luluh melihat air matamu,  tumpahkan sebanyak mungkin di hadapannya !” .Hati cewek ku tiba-tiba menyembul di ujung bantal .

Bed seakan tau hatiku . Kusut . karena memang aku bergulat membolak-balikkan badan . Ngomong , jangan, ngomong, jangan, dan akhirnya , NGOMONG adalah jawabannya.

“Udah puas nangisnya anak cengeng ?”. Mbak ayu tiba-tiba mengalunkan suara merdunya di antara tangisku . Headsetnya masih terpasang, aku mengira ia memang sedang mendengarkan music. Ternyata, dia mendengarkan paraunya tangisku malam itu .
Sudah agak larut . Sekitar pukul 11 malam . Aku dan mbak ayu berputar menyelam dalam ego masing masing. 

“Hey, ayolah widie . ingat umur! Air mata bukan jawaban masalahmu . akan ada lebih besar lagi, berjuta-juta lagi yang harus kau hadapi nanti . Rembesan air mata hanya akan menambah bebanmu!”. Hati wanitaku tak kalah menggebu-gebu bergejolak dalam pikiran dan hati .

“Malam ini waktunya untuk bersenang-senang wid, lewati masa mudamu dengan teman-teman. Merengek saja pada ibu . bilang kalu kau tidak betah di tahan di induk semang ala penjara ini !” memang si cewek ini tak pernah mau mengalah.

Seperti setan dan malaikat, hati cewek dan hati wanita yang selalu ingin di dahulukan . Dan lebih sering hati wanitaku lebih memilih untuk mengurung dirinya . Tak menampakkan wajahnya, tak ingin bertengkar melawan si hati cewek yang selalu lebih eksis.

“Kamu sampe kapan mau nangis ngerengek ngelapor ke ibu kamu wid ?”. Mbak ayu nyeletuk seakan tau obrolan antara hati cewek dan wanitaku .
“Kamu dan aku sama-sama merantau, kamu dan aku sama-sama udah ditempa di kampus ini, kamu dan aku sama-sama perempuan, tapi bedanya , aku wanita dan kamu masih cewek kemaren !” 
Berdehemlah hati wanitaku .  Mbak Ayu benar, dan sisi wanitaku yang pemalu juga benar . Betapa lemahnya aku . Betapa kekanak-kanakannya aku . aku mengusap air mata yang seperti keran bocor tak mau berhenti.  “aku ga bisa mbak…”

“Aku ga bisa dicuekin orang , aku ga siap untuk di benci , dan aku ga mau ada orang yang ga nyaman karena sikapku . maaf mbak, aku selalu bikin mbak kesel …”

Tampaknya aku memang memasang bordiran wajah yang paling memelas .  Paling tak tahan, paling ingin dikasihani atau di kasih uang juga apalagi.

***

Mbak ayu , seorang kawan kampus yang baru kali ini aku mengenal dekat dirinya . Aku tak pernah menyangka, akan dapat perilaku super cuek dari orang ini . Baru 4 hari tinggal sekamar di rumah induk semang, dia berhasil membuatku berantakan.

“kamu harus menyesuaikan keadaan, bukan kamu yang harus disesuaikan !” . “Aku disini hidup, mendengar, melihat , merasakan !” sepertinya tumpah sudah kemarahan Mbak Ayu padaku. 

“kita belajar panca indera kaliii !!!!” hati cewekku usil, segera kutepuk jidatnya . Hussshhh…..

“Iya mbak, karena aku juga disini seperti mbak, aku juga merasakan. Merasa di cueki, merasa tidak penting , merasa tidak didengar, jadi aku harus tau alasan kenapa mbak bersikap begitu padaku …” Aku bicara tanpa kontrol, bercampur air mata .

“Introspeksi diri , sadari apa yang membuat orang tidak nyaman berada di dekatmu !” . Begitu jawabnya, ketus, tidak peduli, serta pas sekali menusuk hatiku .

Mulutmu  harimaumu, memang benar . Sangat benar. Perkataan mbak ayu menorehkan luka seperti sayatan harimau, bahkan walaupun aku tak pernah tau rasanya di belai kuku harimau. Mungkin beda tipis.
Aku menyibakkan rambutku , yang telah bercampur keringat dan air mata . “Maaf mbak, aku cuman bisa bilang maaf . aku bingung …”

Hati cewek menyembul lagi   “buat apa kau minta maaf sedangkan responnya masih saja begitu, dia marah-marah terus wid, nangis wid, gas teroos !”

Si Wanita bernyanyi lagi di telingaku “Bicarakan wid, tapi tidak dengan air mata . Hapus sungai di pipimu itu, dan segera selesaikan. Jangan terus-terusan sibuk memproduksi air mata !”.

Aku menyambut , “Oke mbak, aku mungkin terlalu lemah. Tapi aku ingin menyelesaikan ini karena kita perlu kenyamanan, baik aku ataupun mbak ga mungkin terus diam begini” .
Mbak ayu, sosok jawa yang harusnya sesuai dengan namanya . Tapi tidak kutemukan pada orang aneh satu ini, pikiran ku mulai dirasuki setan.

***
“Urusanmu untuk minta maaf sudah selesai to , sekarang kamu santai aja . Aku mau maafin atau enggak ya urusanku . aku males ngomong sama kamu untuk beberapa hari ini , aku nggak tau sampai kapan . Biarin aja semuanya ngalir seperti air , kalau kamu bisa berubah ya sukur !” . Sangat-sangat-sangat pedas lidahnya menusukku.

Aku kacau, namun kadar wanitaku mulai berkhotbah . “Dia hanya mengujimu wid, yang penting kamu udah minta maaf dan cobalah untuk tunjukkan perubahanmu, sebaik mungkin. Walau kamu nggak tau salahmu apa , all is well !” begitu katanya.

Hormon cewekku , mengerang.  
Betapa bodohnya kamu wid . Rayuan tangismu kurang mengena !”

Si cewek dan dan seorang wanita di hatiku, terus bergumul, beraduk, seperti adonan kue yang siap di goreng di minyak panas . Dan aku , kepalaku terasa sesak akibat perkelahian mereka .
Lampu mati, pikiranku gelap, hatiku mulai meredup sedikit demi sedikit .

“Astagfirullah ,  ..” . Kini hanya terngiang suara malaikatku , Ibu, dengan jarak ratusan kilometer dari sini . Dan akhirnya bola mataku mulai lelah dan kelopaknya mulai tertutup.


Painan, menjelang tengah malam. Aku dan pikiranku .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar