Kamis, 12 Maret 2015

Lukisan Manis di Pantai Pink

Aku terpukau. Kagum. Pantai pink dan bulirnya yang merona seperti pipiku menyisakan rindu tak berujung untuk Lombok . Langit biru dengan gumpalan awan, lengkap dengan deburan ombak dan karang terjal di balik bukit . Yanik , Rizky , dan Trasna , berceloteh riang menyiramkan air tubuhku .

"Jangan terlalu ajak adikmu ke tengah nak !" Ibu yang menunggu di berugaq tak jauh dari barisan perahu menghidupkan alarmnya  . Aku segera berhamburan dengan penuh pasir ke arah Malaikat penjaga ini.

Kaus kuning , longgar dan celana pendek serta kaca mata hitam . Sosok aku tak hentinya berdecak kagum . Lombok selalu menyajikan sunguhan yang tak pernah pelak untukku . Bulir pasir merah muda , di balik gua yang tersusun atas pepohonan kering berbaris rapi menyambut kedatangan kami beberapa saat yang lalu .

Pantai Pink , sebagian kecil surga titipan di Gumi Lombok. Ini adalah pertama kalinya aku kemari. 

IPDN membuatku harus meninggalakan rumah dan Lombok. Tempat yang selalu memberikan alasan untuk merindukannya . Dan kini, aku disini bersama Ibu, Bapak, dan adik-adikku yang sudah sejak 6 bulan lalu tak jumpa . Hhh


Bercengkrama bersama Bapak, sambil disiapkan makan siang beralaskan tikar yang kami bawa dari rumah . Lauk sayur bayam dan sambal terasi khas Lombok, Kerupuk, dan Ikan bakar di tepi pantai . Oh,Manisnya hari ini. 

Kaki yang terperban dengan berjalan menggunakan tongkat penyangga . Agaknya keadaan kaki Bapak memang sedikit mengganjal untukku . 
"Bapak, kakinya ndak apa-apa kalau diselonjorkan ? " memperbaiki posisi dudukku dan mengelus perban di engkel bapak.

Bapak hanya tersenyum. "Kamu besok harus kembali ke Bukittinggi , tak ada alasan Bapak menolak menemanimu liburan hari ini" ,  "Kaki bapak juga perlu di ajak jalan-jalan biar ndak kaku !" .

Aku tertegun , Bapak yang biasanya selalu sibuk menghabiskan hari-harinya di kantor, koperasi, dan urusan lainnya.
Selama di Bukittinggi, ibu sering mengabarkan bahwa bapak akhir-akhir ini terlambat pulang . Mengurus Koperasi yang dikelola keluarga kami . Hasilnya memang tak banyak, namun tidak hanya cukup untuk menghidupi keluarga kami, melainkan beberapa keluarga lain yang membutuhkan . Bapak memperkerjakan lumayan kuantitas pegawai . 
***

Musibah tak dapat di alihkan . Tiga hari yang lalu , Bapak tergelincir dari sepeda motornya sepulang dari Koperasi. Engkelnya sedikit bergeser, namun tak parah . Pemulihannya mungkin sekitar 2 minggu .

Dan hari ini , Bapak memilih disini.
Bersama angin Pantai, bernyanyi seiring ombak dan mencipratkan kesejukan di hatiku .

Yanik, Rizqy, dan Trasna tampak berlari menuju ke arah kami . 
"Lapaaaaarrrrr !!!"

Ibu dengan cekatan menyiapkan lauk pauk untuk putri-putri rajanya . 


hhh, sebuah lukisan indah di hari terakhirku di Lombok . Di ujung pulau yang hening. Sebelum berkutat lagi dengan kampus, kuliah,dan asrama . 
Sebuah lagu berdendang seiring decak lapar aku dan keluarga .
Nyanyian perut yang lapar, deburan ombak, berkolaborasi dengan hatiku yang bernyanyi tak karuan .


Selalu ada alasan merindukan Lombok dan seisinya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar