Hal yang selalu saya sukai, sekaligus hal yang membuat saya geram . Dialah menulis .
setiap kata dan bait yang mengalir dari hasil orgasme yang baik antara hati dan pikiran. Hasil penggabungan senyawa logika dan nurani yang terkadang bentrok . Menulis, sebuah karangan dari Tuhan, sebuah contekan dari Tuhan yang membuatku sedikit lebih menghargai hidupku .
Terlalu banyak orang yang harus saya sebutkan untuk mereka yang diberi karunia istimewa dari Tuhan ini . Dan bagi diri saya sendiri, saya sangat paham, sangat tahu diri jika MENULIS adalah salah satu kelemahan saya . Namun Begitu besar keistimewaan tangan manusia ternyata , dan kita bisa melihat itu dari tulisan-tulisan mereka yang seakan membawa kita hanyut dalam bukunya.
Menulis bagi saya sebuah ancaman, karena di salah satu tips menulis yang baik, dari sekian banyak tips yang ada, saya tertarik dengan satu hal . Si penulis tips tersebut mengatakan, "menulis merupakan tolak ukur dirimu dalam menyelesaikan permasalahan hidup . Jika anda bisa menyelesaikan satu tulisan, entah tentang apapun , maka anda sudah berhasil menyelesaikan satu masalah hidup". Dan ketika saya tidak sanggup , tulisan saya beradu antar hati dan pikiran , disitulah kadang saya merasa sedih.
Saya pernah bertanya pada seorang teman, sebut saja namanya Bunga .
"apa yang membuatmu suka menulis" ?
"saya terkadang berpikir menulis merupakan salah satu ciri kealayan yang ada di dunia ini , apalagi mereka yang suka menulis buku diary!"
"alay banget ga sih menurut kamu ? "
dan, si Bunga berkata "Menulis adalah caraku menyapa dunia jika suatu saat suaraku tak terdengar ".
Sebuah kata yang membuat saya jatuh hati .
Menulis adalah cara dia berbicara , namun dengan goresan . Dan jika kita mati, tulisan itu akan tetap hidup . Begitu kiranya si Bunga mengantarkan saya untuk belajar berbicara lewat tulisan .
Menulis, hal yang ingin selalu saya kuasai namun terkadang sering mengalahkan saya .
Menulis, hal yang mengajari saya menyapa
Menulis, obat di kala nurani saya merasa nyeri
dan menulis, yang terkadang menghantarkan saya ke kubangan bentrokan alam di hati .
Semoga Allah selalu mengizinkan saya bersenandung lewat tulisan, belajar lewat goresan.
Rabu, 11 Maret 2015
Rabu, 04 Maret 2015
Contekan Dari Tuhan
selamat datang Maret :)
Hari ini, tepat 2 bulan sejak januari, saya masih disini. Masih tersenyum , masih berusaha dan akan terus berusaha bertahan dengan hiruk pikuk Kampus IPDN Sumatera Barat ini .
Hari ini, tepat ketika saya memilih untuk tak mengambil pilihan . Pilihan untuk malas , ataupun pilihan untuk repot . Saya tak kuasa berpihak pada salah satunya . Sebaiknya, saya berada diantara kedua pilihan itu . Saya akhirnya MALAS REPOT .
Hari ini, karena saya sedang dalam kondisi MALAS REPOT , tentunya sangat berpotensi tinggi terjadinya GALAU . Jadi saya lebih suka mengantisipasi bencana besar itu (read : galau) dengan melampiaskan dan menuliskannya di sini, di blog yang belum terjamah oleh siapapun .
Masih di hari ini, karena kampus saya berada jauh dari keramaian, jauh juga dari kesunyian, jauh dari rumah, dan sangat jauh dari kamu (yang merasa saja) saya akhirnya menenggelamkan diri sejauh-jauhnya dalam tulisan ini. Saya bisa berteriak , walaupun tak bersuara . Saya bisa membayangkan walau tak bisa merasakan. Saya bisa bersenandung walau tanpa melodi , dan saya tak tau bisa apa lagi disini .zzz
Oke, inti tulisan ini, hanya untuk menujukkan sebagian kecil usaha saya ingin bisa menulis. Entah tentang apapun . Sesuatu yang nanti layak untuk dinamakan sebuah bacaan. Oh hey, dan sejujurnya, saya belum paham apa yang baik untuk saya tulis .
Banyak sekali , banyak hal, banyak contoh, dan banyak-banyak lagi yang lainnya para penulis handal yang memberikan tips terbaik untuk menjadi penulis yang baik . Mulai dari seorang penulis cilik (entah sekarang dia masih patut di sebut cilik atau tidak) yang saya baca novelnya pada usia sekitar 10 tahun , bernama A. ATAKA A.R "Misteri Pedang Skinheald", DEE, Asma Nadia, Andrea Hirata, Gola Gong dan Tias Tatanka ( pasangan penulis yang sangat saya kagumi, karena meraka punya "RUMAH DUNIA" di Serang dan saya sangat-sangat-sangat ingin kesana ), Pramoedya Ananta Toer , dan beberapa artis yang BERHASIL menulis kisah mereka dalam sebuah buku . Mereka punya ribuan kisah yang akhirnya laku dikonsumsi oleh kita semua .
Bahkan para penulis cilik lain yang tergabung dalam KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) , Oh Tuhan, saya kalah dengan mereka yang masih sangat belia . Bisa kah saya sedikit saja seperti mereka ??? dari mana datangnya ribuan kata yang bisa mereka jual dengan sangat laku ? dari mana datangnya kelihaian jemari mereka dalam merangkai kalimat-kalimat itu ?
Dan, Hari ini, saya berharap Tuhan mau memberikan jawabannya melalu contekan yang di titipkan kepada saya.
Rabu, Bukittinggi menjelang senja . Di sebuah kamar yang merindukan jendela dunia .
Berikan saya contekan Tuhan :)
Hari ini, tepat 2 bulan sejak januari, saya masih disini. Masih tersenyum , masih berusaha dan akan terus berusaha bertahan dengan hiruk pikuk Kampus IPDN Sumatera Barat ini .
Hari ini, tepat ketika saya memilih untuk tak mengambil pilihan . Pilihan untuk malas , ataupun pilihan untuk repot . Saya tak kuasa berpihak pada salah satunya . Sebaiknya, saya berada diantara kedua pilihan itu . Saya akhirnya MALAS REPOT .
Hari ini, karena saya sedang dalam kondisi MALAS REPOT , tentunya sangat berpotensi tinggi terjadinya GALAU . Jadi saya lebih suka mengantisipasi bencana besar itu (read : galau) dengan melampiaskan dan menuliskannya di sini, di blog yang belum terjamah oleh siapapun .
Masih di hari ini, karena kampus saya berada jauh dari keramaian, jauh juga dari kesunyian, jauh dari rumah, dan sangat jauh dari kamu (yang merasa saja) saya akhirnya menenggelamkan diri sejauh-jauhnya dalam tulisan ini. Saya bisa berteriak , walaupun tak bersuara . Saya bisa membayangkan walau tak bisa merasakan. Saya bisa bersenandung walau tanpa melodi , dan saya tak tau bisa apa lagi disini .zzz
Oke, inti tulisan ini, hanya untuk menujukkan sebagian kecil usaha saya ingin bisa menulis. Entah tentang apapun . Sesuatu yang nanti layak untuk dinamakan sebuah bacaan. Oh hey, dan sejujurnya, saya belum paham apa yang baik untuk saya tulis .
Banyak sekali , banyak hal, banyak contoh, dan banyak-banyak lagi yang lainnya para penulis handal yang memberikan tips terbaik untuk menjadi penulis yang baik . Mulai dari seorang penulis cilik (entah sekarang dia masih patut di sebut cilik atau tidak) yang saya baca novelnya pada usia sekitar 10 tahun , bernama A. ATAKA A.R "Misteri Pedang Skinheald", DEE, Asma Nadia, Andrea Hirata, Gola Gong dan Tias Tatanka ( pasangan penulis yang sangat saya kagumi, karena meraka punya "RUMAH DUNIA" di Serang dan saya sangat-sangat-sangat ingin kesana ), Pramoedya Ananta Toer , dan beberapa artis yang BERHASIL menulis kisah mereka dalam sebuah buku . Mereka punya ribuan kisah yang akhirnya laku dikonsumsi oleh kita semua .
Bahkan para penulis cilik lain yang tergabung dalam KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) , Oh Tuhan, saya kalah dengan mereka yang masih sangat belia . Bisa kah saya sedikit saja seperti mereka ??? dari mana datangnya ribuan kata yang bisa mereka jual dengan sangat laku ? dari mana datangnya kelihaian jemari mereka dalam merangkai kalimat-kalimat itu ?
Dan, Hari ini, saya berharap Tuhan mau memberikan jawabannya melalu contekan yang di titipkan kepada saya.
Rabu, Bukittinggi menjelang senja . Di sebuah kamar yang merindukan jendela dunia .
Berikan saya contekan Tuhan :)
Kamis, 19 Februari 2015
kata
Kau tahu?
Aku selalu ingin
bersamamu..
Tapi kini,bayanganmu saja tak boleh berkawan denganku
mendobrak abstrak abstrak yang tumbuh dari ilusi
dan akhirnya kau tercampak di tikungan
musim
sayang.. aku
mengenangmu
tapi cinta mencegat
kau
di dalam drama
kolosalnya bermain dengan dahlia yang terlilit
bersandiwara dan
berperan dalam tangis kita
tertawa dalam luka
kita
sayang.. aku
memilikimu
tapi sekat selalu ada
mengikatku dalam
musim restu
membubuhkan paku, mendobrak
vignet yang terlukis sempurna
sayang.. cinta itu
milik kita
tapi mereka iri
mereka takut
kebahagiaan itu hanya kita yang punya
sayang, aku tak
pandai berkata
tak mampu berdamai
dengan kata
tak mampu membaca
kata-kata
dan kita
benar-benar tak mampu berkata
ketika cinta
menolak memberi restunya pada “kita”
sayang, biar nanti
saja waktu yang berkata
jika hari ini kita
tak dalam satu kata
suatu saat nanti
doa yang terkata
akan membuat “kita”
hidup lagi.
Senin, 16 Februari 2015
coretan
Apa
yang mereka dapatkan
Apa
yang kami terima
Apa
yang harusnya tak ada
Itulah
pertanyaan yang menggelitik di setiap langkah gontaiku di sini
Bagaimana
mungkin aku terus berjalan
Tanpa
tau arah
Tanpa
tau batas
Tanpa
ada yag menemani menggores tinta tinta
Menjadi
pamong praja utuh hati dan jiwanya untuk bangsa
Angin
abdi praja berhembus lirih di lagu lagu telingaku
Parade
menggetarkan jiwaku yang sepertinya kalut
Aku
takut ibu
Masih
sangat takut untuk berdiri di ksatriaan ini
Bapak...
Taukah
kau putrimu menangis membayangkan diri menjadi pemimpin nanti
Dalam
gedung penuh sesak
Dalam
lautan keringat
Kami
disini berdiri berdiri jauh dari yang terkasih
Mace
, pace, akang , teteh , kakak
Mereka
lah yang kerap kali terdengar nyanyian nyanyiannya
bersiul
setiap petak tak
bernyawa
Kami
memang terjamin
Kami
memang nyaman
Tapi
terkadang , ada nyanyian sumbang
Ada
keluhan kecil yang merayap di dinding kebisuan dalam wisma
Dalam
sucinya embun malam
Kami
terjaga dengan tetap mengingat-Mu
Kami
menangis merindu mengingat
Mereka
yang jauh , mereka yang menunggu peluh kami
Ya
Rabb
Kau
yang maha tau apa yang kami rasa
Aku
titipkan ibu dan bapak di rumah
Aku
titipkan nyanyian kecilku di sana
Walaupun
aku takut
Walaupun
aku pernah terisak
Aku
yakin Kau bersamaku
Aku
yakin mereka selalu untukku
Disatu
sisi aku Tak pernah berniat berpuisi
Hanya
gorean hati yang terkadang bergejolak ingin di tumpahkan
Kamis
, 14 feb 13
Minggu, 15 Februari 2015
Profil Kabupaten Lombok Tengah
Profil
|
Nama Resmi
|
:
|
Kabupaten Lombok Tengah
|
|
Ibukota
|
:
|
Praya
|
|
Provinsi
|
:
|
NUSA
TENGGARA BARAT
|
|
Baras Wilayah
|
:
|
Utara: Kabupaten
Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Timur
Selatan: Samudera Hindia Barat: Kabupaten Lombok Barat Timur: Kabupaten Lombok Timur |
|
Luas Wilayah
|
:
|
1.095,03 Km2
|
|
Jumlah Penduduk
|
:
|
972.965 Jiwa
|
|
Wilayah Administrasi
|
:
|
Kecamatan: 12, Kelurahan : 12, Desa :112
(Permendagri No.66 Tahun 2011)
|
|
|
|
Merekonstruksi sejarah Kerajaan SELAPARANG Menjadi
sebuah bangunan kesejarahan yang utuh dan menyeluruh agaknya memerlukan
pengkajian yang mendalam. Permasalahan utamanya terletak pada ketersediaan
sumber-sumber sejarah yang layak dan memadai. Sumber-sumber yang ada sekarang,
seperti Babad dan lain-lain memerlukan pemilihan dan pemilahan dengan kriteria
yang valid dan reliable. Apa yang tertuang dalam
tulisan sederhana ini mungkin masih mengundang perdebatan. Karena itu sejauh
terdapat perbedaan-perbedaan dalam pengungkapannya akan dlmuat sebagai gambaran
yang masih harus ditelusurl sebagal bahan pengkajlan leblh ianjut.
Agak sulit membuat kompromi penafsiran untuk menemukan
benang merah ketiga deskripsi di atas. Minimnya sumber-sumber sejarah menjadi
alasan yang tak terelakkan.
Zaman Majapahit
Menurut Lalu Djelenga (2004), catatan sejarah
kerajaan-kerajaan di Lombok yang lebih berarti dimulai dari masuknya Majapahit
melalui ekspedisi di bawah Mpu Nala pada tahun 1343 sebagai pelaksanaan Sumpah
Palapa Maha Patih Gajah Mada yang kemudian diteruskan dengan inspeksi
Gajah Mada sendiri pada tahun 1352.
Ekspedisi ini, lanjut Djelenga, meninggalkan jejak
kerajaan Gelgel di Bali. Sedangkan di Lombok dalam perkembangannya
meninggalkan jejak berupa empat kerajaan utama saling bersaudara, yaitu
Kerajaan Bayan di barat, Kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di
tengah dan Kerajaan Pejanggik di selatan. Selain keempat kerajaan tersebut,
terdapat kerajaan-kerajaan kecil, seperti Parwa dan Sokong serta beberapa desa
kecil, seperti Pujut, Tempit, Kedaro, Batu Dendeng, kuripan dan Kentawang.
Seluruh kerajaan dan desa ini selanjutnya menjadi wilayah yang merdeka setelah
kerajaan Majapahit runtuh.
Di antara kerajaan dan desa itu yang paling terkemuka
dan paling terkenal adalah Kerajaan Lombok yang berpusat di Labuhan Lombok.
Disebutkan kota Lombok terletak di teluk Lombok yang sangat indah dan mempunyai
sumber air tawar yang banyak. Keadaan ini menjadikannya banyak dikunjungi oleh
pedagang-pedagang dari Palembang, Banten, ,Gresik dan Sulawesi.
Masuknya Islam
Belakangan, ketika Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu
Rangkesari, Pangeran Prapen, putera Sunan Ratu Giri datang mengislamkan
kerajaan Lombok. Dalam Babad Lombok disebutkan, pengislaman ini merupakan upaya
dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gersik, Surabaya yang
memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan
Islam ke berbagai wilayah di Nusantara.
"Susuhnii Ratu Giri memerintahkan keyakinan baru
disebarkan ke seluruh pelosok. Dilembu Manku Rat dikirim bersama bala tentara
ke Banjarmasin, Datu bandan di kirim ke Makasar, Tidore, Seram dan Galeier dan
Putra Susuhunan, Pangeran Prapen ke Bali, Lombok dan Sumbawa. Prapen pertama
kali berlayar ke Lombok, dimana dengan kekuatan senjata ia memaksa orang untuk
memeluk agama Islam. Setelah menyelesaikan tugasnya, Prapen berlayar ke Sumbawa
dan Bima. Namun selama ketiadaannya, karena kaum perempuan tetap menganut
keyakinan Pagan, masyarakat Lombok kembali kepada faham pagan. Setelah
kemenangannya di Sumbawa dan Bima, Prapen kembali dan dengan dibantu oleh
Raden Sumuliya dan Raden Salut, ia mengatur gerakan dakwah baru yang kali ini
mencapai kesuksesan. Sebagian masyarakat berlari ke gunung-gunung, sebagian
lainnya ditaklukkan lalu masuk Islam dan sebagian lainnya hanya ditaklukkan.
Prapen meninggalkan Raden Sumuliya dan Raden Salut untuk memelihara agama
Islam dan ia sendiri bergerak ke Bali, dimana ia memulai negosiasi (tanpa
hasil) dengan Dewa Agung Klungkung.
Proses pengislaman oleh Sunan Prapen menuai hasil yang
menggembirkan, hingga beberapa tahun kemudia seluruh pulau Lombok memeluk agama
Islam, kecuali beberapa tempat yang masih memepertahankan adat istiadat lama.
Sementara di Kerajaan Lombok, sebuah kebijakan besar
dilakukan Prabu Rangkesari dengan memindahkan pusat kerajaan ke Desa Selaparang
atas usul Patih banda Yuda dan Patih Singa Yuda. Pemindahan ini dilakukan
dengan alasan letak Desa Selaparang lebih strategis dan tidak mudah diserang
musuh dibandingkan posisi sebelumnya.
Menurut Fathurrahman Zakaria, dari wilayah pusat
kerajaan yang baru ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati
dengan latar belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan
sekali sapuan pandangan. Dengan demikian semua gerakan yang mencurigakan di
tengah lautan akan segera dapat diketahui. Wilayah ini juga memiliki daerah belakang
berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan ditata rapi bertingkat-tingkat
sampai Hutan Lemor yang memiliki sumber air yang melimpah.
Di bawah pimpinan Prabu Rangkesari, Kerajaan
Selaparang berkembang menjadi kerajaan yang maju di berbagai bidang. Salah
satunya adalah perkembangan kebudayaan yang kemudian banyak melahirkan
manusia-manusia sebagai khazanah warisan tradisional masyarakat Lombok hari
ini. ahli sejarah berkebangsaan Belanda L. C. Van den Berg menyatakan bahwa,
berkembangnya Bahasa Kawi sangat memengaruhi terbentuknya alam pikiran agraris
dan besarnya peranan kaum intelektual dalam rekayasa sosial politik di
Nusantara, Fathurrahman Zakaria (1998) menyebutkan bahwa para intelektual
masyarakat Selaparang dan Pejanggik sangat mengetahui Bahasa Kawi. Bahkan
kemudian dapat menciptakan sendiri aksara Sasak yang disebut sebagai jejawen.
Dengan modal Bahasa Kawi yang dikuasainya, aksara Sasak dan Bahasa Sasak, maka
para pujangganya banyak mengarang, menggubah, mengadaptasi atau menyalin manusia
Jawa kuno ke dalam Lontar-lontar sasak. Lontar-lontar dimaksud, antara lain
Kotamgama, Lapel Adam, Menak Berji, Rengganis dan lain-lain. Bahkan para
pujangga juga banyak menyalin dan mengadaptasi ajaran-ajaran sufi para
Walisongo, seperti lontar-lontar yang berjudul Jatiswara, Lontar Nursada dan
Lontar Nurcahya. Bahkan hikayat-hikayat Melayu pun banyak yang disalin dan
diadaptasi, seperti Lontar Yusuf, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sidik Anak Yatim
dan sebagainya.
Dengan mengkaji lontar-lontar tersebut, menurut
Fathurrahman Zakaria (1998) kita akan mengetahui prinsip-prinsip dasar yang
menjadi pedoman dalam rekayasa sosial politik dan sosial budaya kerajaan dan
masyarakatnya. Dalam bidang sosial politik misalnya, Lontar Kotamgama lembar 6
lembar menggariskan sifat dan sikap seorang raja atau pemimpin, yakni Danta,
Danti, Kusuma dan Warsa.
·
Danta artinya gading gajah, apabila
dikeluarkan tidak mungkin dimasukkan lagi.
·
Danti artinya ludah, apabila sudah
dilontarkan ke tanah tidak mungkin dijilat lagi.
·
Kusuma artinya kembang, tidak mungkin
kembang itu mekar dua kali.
·
Warsa artinya hujan, apabila telah jatuh
ke bumi tidak mungkin naik kembali menjadi awan.
Itulah sebabnya seorang raja atau pemimpin hendaknya
tidak salah dalam perkataan.
Selain itu, dalam lontar-lontar yang ada diketahui
bahwa istilah-istilah dan ungkapan yang syarat dengan ide dan makna telah
dipergunakan dalam bidang politik dan hukum, misalnya kata hanut (menggunakan
hak dan kewajiban), tapak (stabil), tindih (bertata krama), rit (tertib), jati
(utama),tuhu (sungguh-sungguh), bakti (bakti, setia) atau terpi (teratur).
Dalam bidang ekonomi, seperti itiq (hemat), loma (dermawan), kencak (terampil)
atau genem (rajin).
Kemajuan Kerajaan Selaparang ini membuat kerajaan
Gelgel di Bali merasa tidak senang. Gelgel yang merasa sebagai pewaris
Majapahit, melakukan serangan ke Kerajaan Selaparang pada tahun 1520, akan
tetapi menemui kegagalan.
Mengambil pelajaran dari serangan yang gagal pada
1520, Gelgel dengan cerdik memaanfaatkan situasai untuk melakukan infiltrasi
dengan mengirimkan rakyatnya membuka pemukiman dan persawahan di bagian selatan
sisi barat Lombok yang subur. Bahkan disebutkan, Gelgel menempuh strategi baru
dengan mengirim Dangkiang Nirartha untuk memasukkan faham baru berupa
singkretisme Hindu-Islam. Walau tidak lama di Lombok, tetapi ajaran-ajarannya
telah dapat memengaruhi beberapa pemimpin agama Islam yang belum lama memeluk
agama Islam. Namun niat Kerajaan Gelgel untuk menaklukkan Kerajaan Selaparang
terhenti karena secara internal kerajaan Hindu ini juga mengalami stagnasi dan
kelemahan di sana-sini.
Masuknya Kolonialisme
Kedatangan VOC Belanda ke Indonesia yang
menguasai jalur perdagangan di utara telah menimbulkan kegusaran Gowa, sehingga
Gowa menutup jalur perdagangan ke selatan dengan cara menguasai Pulau Sumbawa
dan Selaparang. Untuk membendung misi kristenisasi menuju ke barat, maka Gowa
juga menduduki Flores Barat dengan membangun Kerajaan Manggarai.
Ekspansi Gowa ini menyebabkan Gelgel yang mulai
bangkit tidak senang. Gowa dihadapkan pada posisi dilematis, mereka khawatir
Belanda memanfaatkan Gelgel. Maka tercapai kesepakatan dengan Gelgel melalui
perjanjian Saganing pada tahun 1624 yang isinya antara lain Gelgel tidak akan
bekerja sama dengan Belanda dan Gowa akan melepaskan perlindungannya atas
Selaparang yang dianggap halaman belakang Gelgel.
Akan tetapi terjadi perubahan sikap sepeninggal Dalem
Sagining yang digantikan oleh Dalem Pemayun Anom. Terjadi polarisasi yang
semakin jelas, yakni Gowa menjalin kerjasama dengan Mataram di Jawa dalam
rangka menghadapi Belanda. Sebaliknya Belanda berhasil mendekati Gelgel,
sehingga pada tahun 1640, Gowa masuk kembali ke Lombok. Bahkan pada tahun 1648,
salah seorang Pangeran Selaparang dari Trah Pejanggik bernama Mas Pemayan
dengan gelar Pemban Mas Aji Komala, diangkat sebagai raja muda, semacam
gubernur mewakili Gowa, berkedudukan di bagian bara pulau Sumbawa.
Akhirnya perang antara Gowa dengan Belanda tidak
terelakkan. Gowa melakukan perlawanan keras terutama dibawah pimpinan Sultan
Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Sejarah mencatat Gowa harus
menerima perjanjian Bungaya pada tahun 1667. Bungaya adalah sebuah wilayah yang
terletak disekitar pusat kerajaan Gelgel di Klungkung yang menandai eratnya
hubungan Gelgel-Belanda. Konon Gelgel berusaha memanfaatkan situasi dengan
mengirimkan ekspedisi langsung ke pusat pemerintahan Selaparang pada tahun
1668-1669, tetapi ekspedisi tersebut gagal.
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan
tetangganya, yaitu Kerajaan Gelgel, namun pada saat yang bersamaan, suatu
kekuatan baru dari arah barat telah muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada
sejak permulaan abad ke-15 dengan datangnya para imigran petani liar dari
Karang Asem (Bali) secara bergelombang dan mendirikan koloni di kawasan Kotamadya
Mataram sekarang ini. Kekuatan itu telah menjelma sebagai sebuah kerajaan
kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan yang berdiri pada tahun 1622.
Namun bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan
akan tetap muncul secara tiba-tiba yaitu kekuatan asing, Belanda yang
sewaktu-waktu akan melakukan ekspansi. Kekuatan dari tetangga dekat diabaikan,
karena Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Sebab itu sebelum kerajaan
yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya diantisipasi
dengan menempatkan pasukan kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq Wirabangsa.
Di balik itu memang ada faktor-faktor lain terutama
masalah perbatasan antara Selaparang dan Pejanggik yang tidak kunjung selesai.
Hal ini menyebabkan adanya saling mengharapkan peran yang lebih di antara kedua
kerajaan serumpun ini atau saling lempar tanggung jawab. Dalam kecamuk
peperangan dan upaya mengahadapi masalah kekuatan yang baru tumbuh dari arah
barat itu, maka secara tiba-tiba saja, tokoh penting di lingkungan pusat
kerajaan, yaitu patih kerajaan sendiri yang bernama, Raden Arya Banjar Getas,
ditengarai berselisih pendapat dengan rajanya. Raden Arya Banjar Getas akhirnya
meninggalkan Selaparang dan hijrah mengabdikan diri di Kerajaan Pejanggik yang
dulu (Kerajaan Pejanggik) berada di Daerah Pejanggik yang berada di
Kecamatan Jonggat.
Atas prakarsanya sendiri, Raden Arya Banjar Getas
dapat menyeret Pejanggik bergabung dengan sebuah Ekspedisi Tentara Kerajaan
Karang Asem yang sudah mendarat menyusul di Lombok Barat. Semula
berdasarkan informasi awal yang diperoleh, maksud kedatangan ekspedisi itu akan
menyerang Kerajaan Pejanggik.
Namun dalam kenyataan sejarah, ekspedisi itu telah
menghancurkan Kerajaan Selaparang karena wilayah tersebut dapat ditaklukkan
hampir tanpa perlawanan, sebab sudah dalam keadaan sangat lemah. Peristiwa ini
terjadi pada tahun 1672. Pusat kerajaan hancur dan rata dengan tanah serta raja
beserta seluruh keluarganya mati terbunuh.
Selaparang jatuh hanya tiga tahun setelah menghadapi
Belanda. Empat belas tahun kemudian, pada tahun 1686 Kerajaan Pejanggik dibumi
hanguskan oleh Kerajaan Mataram Karang Asem. Akibat kekalahan Pejanggik, maka
Kerajaan Mataram mulai berdaulat menjadi penguasa tunggal di Pulau Lombok
setelah sebelumnya juga meluluh lantakkan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Gunung Rinjani, gunung tertinggi di Pulau Lombok
Lumbung, tempat penyimpanan padi ciri khas masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok.
Sabuk Anteng, semacam sabuk yang spesifik bagi kaum wanita yangcoraknya khas Lombok
Tengah.
Kubah, perlambang ketaatan dan ketaqwaan masyarakat Lombok Tengahterhadap ajaran
agama yang dianutnya.
Perisai Segi Lima, benteng pertahanan dalam mengawal serta menegakkan Pancasila.
Bintang Segi Lima, melambangkan Falsafah Negara Pancasila sebagaiPandangan dan Tuntunan
Hidup.
Kapas Bermahkota Empat, dan berdasar Kelopak lima melukiskan landasan UUD 1945.
Laut Biru dengan Gelombang Putih, menggambarkan semangat perjuangan yang tidak kunjung padam sekaligus
menampakkan keadaan alam Kabupaten Lombok Tengah.
Tulisan berbunyi LOMBOK TENGAH, merupakan nama daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958.
TATAS TUHU TRASNA, merupakan Motto Daerah
Songket Sukarara, Gerabah Penujak, Anyaman Beleka,
Desa Tradisional Sade & Nde, Ritual Nede, Festival Bau Nyale, Peresean,
Gendang Beleq, Jangger, Masjid Kuno Rembitan & Makam Wali Nyatoq, Makam
Ketak, Situs Batu Rijang, Makam Seriwa
Songket Sukarara
Songket merupakan kain tenun tradisional sasak
yang terkenal di Nusa TenggaraBarat bahkan sampai keluar daerah
dan Mancanegara. Souvenir inibisa didapati di daerah objek
wisata Lombok Tengah atau di Desa Sukarara Kecamatan
Jonggat yang merupakan desa tempat penenun membuat kain
songket ini, berlokasi sekitar 3 Km barat Kota Praya. Pengunjung
tertarikmenyaksikan cara pembuatan kain songket yang
dibuat oleh wanitadengan berpakain tradisional khas sasak
bias berkunjung menyaksikannya secara langsung ke
Desa Sukarara.
Gerabah Penujak
Di desa ini pengunjung bisa menyaksikan penduduk setempatmembentuk
dan menghaluskan tanah liat menjadi bentuk yangmengagumkan yaitu gerabah.
Keahlian ini diperoleh sejak dahulu ketika runtuhnya kerajaan
hindu majapahit abad ke 16 dengan metode tradisional putar dan
coiling. Gerabah Penujak merupakan komoditi ekspor. Peminatyang
menginginkan gerabah bisa diperoleh di art shops atau langsung keDesa
Penujak Kecamatan Praya Barat sekitar 7 Km selatan Kota Praya.Anyaman
Beleka.
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksianyaman yang terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya KotaPraya, kecamatan Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduksetempat juga mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besimembuat keris. Pengunjung bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek wisata atau di Desa Beleke.
Beleke, desa utama di Kabupaten Lombok Tengah yang memproduksianyaman yang terbuat dari rotan dan ketak. Terletak 15 Km timurnya KotaPraya, kecamatan Janapria. Selain pengerajin anyaman, penduduksetempat juga mahir membuat ukiran kayu, patung dan pande besimembuat keris. Pengunjung bisa mendapatkan souvenir-souvenir ini di beberapa objek wisata atau di Desa Beleke.
TUGAS PENGANTAR AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
Pengertian
Akuntansi Pemerintah
Berdasarkan pengertian pemerintah daerah, maka
Akuntansi Pemerintah Daerah menurut Abdul Hafiz (2006:35) “Dapat di definisikan
sebagai proses pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu
dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan
dan termasuk pelaporan hasil-hasilnya dalam penyelenggaraan urusan pemerintah menurut
asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam
system dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Menurut Abdul Halim (2008:35) memberikan
definisi akuntansi pemerintah daerah yang disebutnya sebagai Akuntansi Keuangan
Daerah, Akuntansi Keuangan Daerah adalah: “Proses pengidentifikasian,
pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi ekonomi (keuangan) dari entitas
pemerintah daerah (kabupaten, kota atau provinsi) yang dijadikan informasi dalam
rangka pengambilan keputusan ekonomi oleh
pihak-pihak eksternal pemerintah daerah yang memerlukan”.
Menurut Indra Bastian (2007:15
)akuntansi sector public dapat didefinisikan
sebagai “...mekanisme teknis dan analisis akuntansi yang diterapkan pengelolaan
dana masyarakat di lembaga-lembaga tinggi Negara dan departemen-departemen di
bawahnya, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, LSM dan yayasan sosial, maupun pada
proyek-proyek kerjasama sector public dan swasta”.
Menurut Dedi Nordiawan
(2006:35)akuntansi
sector public adalah “Proses
pencatatan, pengklasifikasian, penganalisisan dan pelaporan transaksi keuangan dari
suatu organisasi publik yang menyediakan informasi keuangan bagi para pemakai laporan
keuangan yang berguna untuk pengambilan keputusan”
PERBEDAAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK DAN AKUNTANSI
SEKTOR SWASTA (KOMERSIAL)
Terdapat beberapa perbedaan dan persamaan
antara akuntansi untuk sektor publik dan akuntansi untuk sektor komersial.
Perbedaan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
|
No
|
Perbedaan
|
Sektor Publik/Pemerintahan
|
Sektor Swasta/Komersial
|
|
1
|
Tujuan Organisasi
|
Nonprofit motif
|
Profit motif
|
|
2
|
Sumber Pendanaan
|
Pajak, Retribusi, Utang, Obligasi
Pemerintah, Laba BUMN/ BUMD, Penjualan aset Negara, dsb; Sumbangan, Hibah.
|
Pembiayaan internal: Modal sendiri,
laba ditahan, penjualan aktiva. Pembiayaan Eksternal: Utang Bank, Obligasi,
penerbitan saham
|
|
3
|
Pertanggungjawaban
|
Pertanggungjawaban kepada publik/
masyarakat dan parlemen (DPR/ DPRD)
|
Pertanggungjawaban kepada pemegang
saham dan kreditor
|
|
4
|
Struktur Organisasi
|
Birokratis, kaku, dan hirarkis
|
Fleksibel: datar, piramid, lintas
fungsional, dsb
|
|
5
|
Karakteristik Anggaran
|
Terbuka untuk publik
|
Tertutup untuk publik
|
|
6
|
Sistem akuntansi
|
Basis Kas
|
Basis Akrual
|
Sedangkan
perbedaan antara sektor publik dan sektor komersial dalam laporan keuangannya
dapat dilihat dalam tabel berikut:
|
No.
|
Aspek Pembeda
|
Sektor Publik
|
Sektor Komersial
|
|
1.
|
Perbedaan Tujuan
|
|
|
|
2.
|
Masalah Pendapatan
|
|
|
|
3.
|
Masalah Beban
|
Menggunakan istilah expenditure
(belanja), dimana didalamnya termasuk :
|
Menggunakan istilah expense
(beban/biaya) dimana cakupannya lebih sempit daripada expenditure
|
|
4.
|
Masalah Penganggaran
|
|
|
|
5.
|
Masalah Kepemilikan
|
Tidak terdapat tanda kepemilikan, yang
bertindak sebagai pemegang kebijakan adalah rakyat selaku pemegang kedaulatan
tertinggi
|
Terdapat tanda kepemilikan, yang
diwujudkan dlam modal saham, pemegang saham mayoritas dapat bertindak selaku
pemegang kebijakan perusahaan
|
|
6.
|
Masalah Basis Akuntansi
|
Basis kas untuk pengakuan pendapatan
dan beban, basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas
|
Basis akrual baik untuk pengakuan
pendapatan, beban, aset, kewajiban dan ekuitas (modal)
|
|
7.
|
Masalah Sistem Entry yang Digunakan
|
Paralel antara single entry dan double
entry:
|
Double entry
|
PERBEDAAN
AKUNTANSI BASIS KAS DAN AKUNTANSI BASIS AKRUAL
Konsep (Metode) Pencatatan Akuntansi. Ada dua
konsep pencatatan akuntansi , yaitu :
ü Cash Basis
Pencatatan basis kas
adalah teknik pencatatan ketika transaksi terjadi dimana uang benar-benar
diterima atau dikeluarkan. Dengan kata lain Akuntansi Cash Basis adalah basis
akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas
atau setara kas diterima atau dibayar yang digunakan untuk pengakuan
pendapatan, belanja dan pembiayaan.Cash Basis akan mencatat kegiatan keuangan
saat kas atau uang telah diterima misalkan perusahaan menjual produknya akan
tetapi uang pembayaran belum diterima maka pencatatan pendapatan penjualan
produk tersebut tidak dilakukan, jika kas telah diterima maka transaksi
tersebut baru akan dicatat seperti halnya dengan “dasar akrual” hal ini berlaku
untuk semua transaksi yang dilakukan, kedua teknik tersebut akan sangat
berpengaruh terhadap laporan keuangan, jika menggunakan dasar akrual maka
penjualan produk perusahaan yang dilakukan secara kredit akan menambah piutang
dagang sehingga berpengaruh pada besarnya piutang dagang sebaliknya jika yang
di pakai cash basis maka piutang dagang akan dilaporkan lebih rendah dari yang
sebenarnya terjadi. Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu
:
1.
Pengakuan Pendapatan
Pengakuan pendapatan, saat pengakuan
pendapatan pada cash basis adalah pada saat perusahaan menerima pembayaran
secara kas. Dalam konsep cash basis menjadi hal yang kurang penting mengenai
kapan munculnya hak untuk menagih. Makanya dalam cash basis kemudian muncul
adanya metode penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya
estimasi piutang tak tertagih.
2.
Pengakuan Biaya
Pengakuan biaya, pengakuan biaya dilakukan
pada saat sudah dilakukan pembayaran secara kas. Sehingga dengan kata lain,
pada saat sudah diterima pembayaran maka biaya sudah diakui pada saat itu juga.
Untuk usaha-usaha tertentu masih lebih menggunakan cash basis ketimbang accrual
basis, contoh : usaha relative kecil seperti toko, warung, mall (retail) dan
praktek kaum spesialis seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah
ada yang pakai credit card-tapi ingat credit card dikategorikan juga sebagai
cash basis).
ü Accrual Basis
Basis Akrual
(Accrual Basis) Teknik basis akrual memiliki fitur pencatatan dimana transaksi
sudah dapat dicatat karena transaksi tersebut memiliki implikasi uang masuk
atau keluar di masa depan. Transaksi dicatat pada saat terjadinya walaupun uang
belum benar – benar diterima atau dikeluarkan.Dengan kata lain basis akrual
digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana. Jadi Basis akrual
adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya
pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi tanpa memperhatikan saat kas atau
setara kas diterima atau dibayar.
Basis Akrual juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:
Basis Akrual juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:
1)
Pengakuan pendapatan
Saat pengakuan pendapatan pada accrual basis
adalah pada saat perusahaan mempunyai hak untuk melakukan penagihan dari hasil
kegiatan perusahaan. Dalam konsep accrual basis menjadi hal yang kurang penting
mengenai kapan kas benar-benar diterima. Makanya dalam accrual basis kemudian
muncul adanya estimasi piutang tak tertagih, sebab penghasilan sudah diakui
padahal kas belum diterima.
2)
Pengakuan biaya
Pengakuan biaya dilakukan pada saat kewajiban
membayar sudah terjadi. Sehingga dengan kata lain, pada saat kewajiban membayar
sudah terjadi, maka titik ini dapat dianggap sebagai starting point munculnya
biaya meskipun biaya tersebut belum dibayar. Dalam era bisnis dewasa ini,
perusahaan selalu dituntut untuk senantiasa menggunakan konsep accrual basis
ini.
Langganan:
Postingan (Atom)

